REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan melanjutkan penurunan setelah perdagangan di Bursa Efek Indonesia dibuka kembali usai penghentian sementara perdagangan (trading halt). Pelemahan ini terjadi seiring tingginya tekanan jual di pasar saham domestik.
Pada pembukaan kembali perdagangan pukul 09.30 WIB, IHSG turun 10 persen ke level 5.211. Pergerakan indeks terus tertekan sejak awal sesi perdagangan pagi hari.
Pada pukul 09.49 WIB, IHSG berada di level 5.238 atau melemah 10,67 persen. Angka tersebut mencerminkan tingginya volatilitas yang melanda pasar keuangan domestik.
Sebelumnya, IHSG dibuka melemah 469,86 poin atau 8,01 persen ke posisi 5.393,92 sehingga perdagangan mengalami trading halt. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 49,14 poin atau 8,33 persen ke posisi 540,95.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, tekanan koreksi berpotensi berlanjut apabila IHSG menembus level support tertentu. Para investor diminta tetap waspada terhadap dinamika pasar.
"Apabila support 5.828 ditembus, tekanan koreksi berpotensi berlanjut untuk menutup gap di area 5.805-5.744 dan 5.704-5.695, dengan level 5.700 menjadi support psikologis berikutnya. Jika level tersebut turut jebol, IHSG berisiko melemah lebih dalam menuju 5.300, yang merupakan area previous low," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Dari dalam negeri, tekanan terhadap pasar saham juga muncul setelah Morgan Stanley Capital International membuka konsultasi kepada pelaku pasar untuk mengkaji ulang klasifikasi MSCI Indonesia Indexes dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market pada seluruh indeks komposit global dan regional yang relevan. Langkah evaluasi ini turut memengaruhi sentimen investor.
MSCI akan menerima masukan dari pelaku pasar mengenai proposal reklasifikasi tersebut hingga 30 April 2027. Keputusan final akan diumumkan sebelum 30 Juni 2027 mendatang.
MSCI menegaskan, rencana reklasifikasi tersebut akan tetap berlanjut kecuali ditemukan bukti jelas mengenai perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar Indonesia. Lembaga ini terus memantau perkembangan reformasi di lantai bursa.
Sejak Januari 2026, MSCI telah membekukan sebagian perubahan indeks saham Indonesia setelah investor menyoroti ketidaktransparanan struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi. Kebijakan ini diambil demi menjaga integritas pasar.