REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga Bitcoin semakin jauh dari rekor tertingginya seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Penguatan dolar AS, pergerakan harga minyak, serta arus keluar dana dari produk investasi Bitcoin menjadi tiga faktor yang membayangi pasar aset kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap yang dikutip Bittime pada Selasa (13/10/2026), harga Bitcoin berada di kisaran 82.400 dolar AS, turun 1,45 persen dalam 24 jam dan 3,73 persen dalam sepekan. Harga tersebut sekitar 34,7 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 126.198,07 dolar AS yang tercatat pada 6 Oktober 2025.
Direktur Operasional Bittime Ryan Lymn mengatakan, pergerakan Bitcoin perlu dilihat dalam konteks ekonomi global yang lebih luas. Perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.
“Perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi selera risiko investor. Karena itu, penting bagi pelaku pasar untuk memahami bagaimana berbagai faktor tersebut saling berkaitan sebelum mengambil keputusan,” ujar Ryan dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik. Mengacu pada laporan Reuters tertanggal 12 Oktober 2026 yang dikutip Bittime, dolar AS bergerak mendekati level tertinggi dalam 18 bulan seiring meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman.
Penguatan dolar AS dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga.
Faktor kedua adalah pergerakan harga minyak dunia yang berkaitan dengan risiko gangguan pasokan energi akibat ketegangan geopolitik. Berdasarkan laporan Reuters pada 13 Oktober 2026 yang dikutip Bittime, harga minyak sedikit melemah setelah mengalami kenaikan pada perdagangan sebelumnya.
Perubahan harga energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan pandangan investor terhadap kebijakan moneter. Meski demikian, hubungan antara harga minyak dan pergerakan Bitcoin tidak selalu berlangsung secara langsung maupun konsisten.
Faktor ketiga adalah arus dana pada produk investasi Bitcoin, terutama spot Bitcoin exchange-traded funds (ETF) di Amerika Serikat. Laporan Investing tertanggal 12 Oktober 2026 yang dikutip Bittime menyoroti tekanan harga Bitcoin di tengah kenaikan harga minyak dan arus dana keluar dari produk tersebut.
Arus keluar dana ETF dapat memberikan gambaran mengenai perubahan permintaan investor terhadap Bitcoin. Namun, indikator tersebut tidak mencerminkan seluruh aktivitas perdagangan maupun sentimen investor di pasar kripto.
Ryan mengatakan, berbagai indikator ekonomi dan investasi perlu dianalisis secara bersamaan sebelum mengambil keputusan. Menurut dia, tidak ada satu indikator yang dapat memastikan arah pergerakan harga Bitcoin berikutnya.
“Data ekonomi dan arus investasi dapat membantu memberikan konteks yang lebih lengkap dalam membaca pasar Bitcoin. Namun, indikator tersebut tidak dapat memastikan arah harga berikutnya. Investor perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan memahami bahwa kondisi pasar dapat berubah dengan cepat,” jelas Ryan.
Di tengah volatilitas pasar, perdagangan derivatif menjadi salah satu instrumen yang memungkinkan investor mengambil posisi berdasarkan perkiraan kenaikan maupun penurunan harga. Namun, penggunaan fasilitas pengungkit atau leverage juga dapat memperbesar risiko kerugian ketika pergerakan harga tidak sesuai perkiraan.
Bittime menyediakan layanan perdagangan derivatif melalui Bittime Futures dengan 49 pasangan perdagangan dan fasilitas leverage hingga 25 kali. Layanan tersebut memungkinkan pengguna mengambil posisi long ketika memperkirakan harga akan naik atau short ketika memperkirakan harga akan turun.
“Futures memberikan fleksibilitas bagi pengguna untuk mengambil posisi berdasarkan pandangan mereka terhadap pasar, baik ketika memperkirakan harga akan naik maupun turun. Namun, fleksibilitas tersebut harus disertai pemahaman mengenai mekanisme perdagangan, penggunaan margin, dan risiko yang melekat pada produk derivatif,” kata Ryan.
Penggunaan leverage memungkinkan investor membuka posisi perdagangan dengan nilai lebih besar dibandingkan modal yang digunakan. Sebaliknya, pergerakan harga yang relatif kecil dapat menimbulkan kerugian signifikan, bahkan memicu likuidasi posisi bergantung pada besarnya leverage, margin, dan kondisi perdagangan.
Bittime Futures juga menyediakan pilihan cross margin dan isolated margin yang memiliki karakteristik risiko berbeda. Investor perlu memahami mekanisme penggunaan margin, ketentuan likuidasi, serta potensi kerugian sebelum menggunakan fasilitas tersebut.
Ryan mengingatkan, perdagangan derivatif tidak menjamin keuntungan, baik ketika harga aset mengalami kenaikan maupun penurunan. Pemahaman terhadap instrumen investasi, riset mandiri, dan pengelolaan risiko sesuai kemampuan finansial menjadi hal penting di tengah volatilitas pasar.