Rabu 07 Oct 2026 21:58 WIB

Dua Smelter PTFI Kembali Beroperasi, Pengolahan Konsentrat Tembaga Makin Optimal

Hilirisasi tembaga bisa meningkat dengan beroperasinya smelter Freeport

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Intan Pratiwi
 PT Smelting dan Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur,
Foto: Freeport Indonesia
PT Smelting dan Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur,

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW) Ferdy Hasiman menyambut positif kembali beroperasinya dua fasilitas pengolahan tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI). Menurut dia, operasional PT Smelting dan Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, akan membuat pengolahan konsentrat tembaga PTFI semakin optimal.

"Ya tentu positif karena smelter tembaganya Freeport merupakan yang terbesar. Dengan begitu nanti pengolahan konsentratnya menjadi lebih optimal," ujar Ferdy, dikutip Rabu (7/10/2026).

PT Smelting sebelumnya sempat dihentikan sementara sejak 8 Agustus 2026 untuk perbaikan fasilitas furnace. Sementara itu, Smelter Manyar kembali beroperasi setelah sebelumnya terdampak penghentian operasi pascainsiden di tambang Grasberg.

Berdasarkan laporan kuartal III 2026 Freeport-McMoRan (FCX), kapasitas peleburan gabungan PTFI, termasuk PT Smelting, ditargetkan mampu menghasilkan hingga sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun. Kembali beroperasinya kedua fasilitas tersebut memperkuat kapasitas pengolahan konsentrat tembaga sekaligus rantai nilai komoditas tersebut di dalam negeri.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan pemulihan operasional fasilitas pengolahan PTFI menunjukkan perkembangan positif. Smelter Manyar kembali menerima konsentrat pada Agustus dan mulai memproduksi katoda tembaga pada September, setelah sebelumnya pasokan konsentrat yang terbatas diprioritaskan untuk PT Smelting.

Yusuf berharap peningkatan kapasitas smelter dapat terus berlangsung secara bertahap seiring dengan pemulihan produksi tambang Grasberg yang ditargetkan pada akhir 2027. Menurut dia, periode pemulihan tersebut dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem industri hilir tembaga nasional.

Ia menilai peningkatan kapasitas smelter perlu diikuti dengan pengembangan industri pengolahan lanjutan agar nilai tambah komoditas tembaga semakin besar berada di dalam negeri. Saat ini, sekitar tiga perempat produksi katoda PT Smelting masih diekspor karena industri pengolahan katoda domestik belum cukup besar.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang pengembangan industri turunan tembaga di Indonesia. Pengembangan itu nantinya akan diorkestrasi pemerintah melalui MIND ID untuk mendorong pemanfaatan tembaga tidak berhenti pada produk katoda.

"Persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada permintaan. Yang juga menentukan adalah harga, kepastian kontrak jangka panjang, spesifikasi produk, dan pola pasokan industri," ujar Yusuf.

Dia menekankan Indonesia memiliki posisi strategis karena didukung cadangan tembaga yang besar. Karena itu, pengembangan industri hilir perlu diarahkan secara konsisten menuju produk bernilai tambah lebih tinggi seperti batang tembaga, kawat, kabel, hingga copper foil untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.

Berita Lainnya

Rekomendasi