REPUBLIKA.CO.ID, SIDOARJO – Seperti di banyak tempat lain di Tanah Air, sudah sebulan lebih hujan tak mampir di Sidoarjo. Di Desa Permisan, Kecamatan Jabon yang tak jauh dari laut, panasnya tak kurang-kurang.
Terlepas dari cuaca tersebut, kerja memeriksa Onshore Receiving Facility (ORF) Porong yang dikelola PT Pertamina Gas melalui Operation East Java Area (OEJA) tak berhenti.
Setiap dua jam sekali, petugas pengendali harus melaporkan kondisi dan mencatatkan ke log book. Sepanjang 24 jam sehari, tujuh hari sepekan mereka bekerja. Bergantian dua orang dalam shift bergantian tiga kali sehari.
Di lain bidang, bekerja petugas perawatan dan pengamanan. “Tidak ada berhentinya, Mas. Harus jalan terus kontrol dan pemeriksaan,” kata Muhammad Maura Gomez, Supervisor Maintenance Distrik Gresik Pertagas OEJA kepada Republika, Rabu (26/8/2026) di Sidoarjo.
Apa sedianya yang mereka awasi demikian lekat?
Dari kejauhan, fasilitas itu mungkin tampak seperti kompleks industri biasa. Pipa-pipa baja membentang, peralatan berdiri dalam formasi yang terukur, sementara suara mesin menjadi bagian dari keseharian.
Namun di balik pipa-pipa yang berkelindan itu ada perjalanan panjang yang sedang berlangsung.
Gas bumi yang tiba di ORF Porong tidak muncul begitu saja. Ia menempuh perjalanan ratusan kilometer dari lapangan-lapangan gas di lepas pantai sebelum akhirnya sampai di daratan Sidoarjo. Di Desa Permisan, perjalanan itu bertemu dengan salah satu simpul pentingnya.
ORF Porong merupakan fasilitas penerimaan, pengaturan, dan penyaluran gas bumi yang dikelola PT Pertamina Gas melalui Operation East Java Area (OEJA). Fasilitas ini telah beroperasi sejak awal dekade 1990-an dan menjadi bagian penting dari jaringan transmisi gas bumi di Jawa Timur.
Di sinilah gas yang datang dari wilayah lepas pantai diterima, diukur, diatur, kemudian dikirim kembali menuju pusat-pusat kebutuhan energi di daratan.
Alur itu yang harus dijaga Maura Gomez dan rekan-rekannya. “Parah-parahnya pipa tertutup atau terjadi kebocoran. Jalur supply akhirnya tertutup,” kata dia.
Untuk memahami pentingnya ORF Porong, bayangkan perjalanan gas dari arah timur. Salah satu jalur utama jaringan tersebut adalah East Java Gas Pipeline (EJGP), yang membentang dari kawasan Pulau Pagerungan menuju Porong. Jalur pipa bawah laut ini memiliki panjang sekitar 360 kilometer. Dokumen pemerintah mencatat ruas Pagerungan–ORF Porong memiliki panjang sekitar 369,7 kilometer.
Artinya, sebelum gas tiba di Porong, ia telah menempuh perjalanan panjang di dasar laut. Salah satu sumber historis utama jaringan tersebut adalah Lapangan Pagerungan di Kepulauan Kangean. Selain itu, jaringan Jawa Timur juga menerima gas dari sejumlah lapangan lepas pantai lainnya di sekitar Madura.
Data operasi yang pernah dipublikasikan menunjukkan pasokan ORF Porong antara lain berasal dari Blok Pagerungan, Santos Peluang, Santos Maleo, dan Terang Gas Field. Pada periode tersebut, total aliran yang diterima dan disalurkan ORF Porong mencapai ratusan MMSCFD.
Jaringan ini bukan sekadar jalur dari titik A menuju titik B. Ia dirancang untuk mengumpulkan pasokan dari sejumlah sumber, kemudian mengarahkannya kepada berbagai konsumen sesuai kebutuhan.
Seiring waktu, sumber pasokan pun berkembang. Salah satunya melalui integrasi Lapangan MAC milik Husky-CNOOC Madura Ltd. (HCML) ke jaringan transmisi melalui pekerjaan tie-in pada akhir 2023.
Dengan begitu, ORF Porong menjadi semacam simpul pertemuan antara gas yang datang dari berbagai sumber dengan kebutuhan energi di daratan.
Begitu tiba di ORF Porong, perjalanan gas belum selesai. Gas kemudian bergerak melalui jaringan pipa menuju sejumlah pusat konsumsi, terutama ke arah Gresik dan wilayah Pasuruan.
Ruas Porong–Gresik merupakan salah satu jalur penting dalam sistem tersebut. Data pemerintah mencatat ruas ini membentang sekitar 52,63 kilometer dari Sidoarjo, melalui Surabaya, menuju Gresik.
Di kawasan Gresik, gas bertemu dengan salah satu konsentrasi industri terbesar di Jawa Timur.
Ada pembangkit listrik yang membutuhkan gas sebagai bahan bakar. Ada industri pupuk dan petrokimia. Ada pula berbagai kegiatan industri lain yang membutuhkan energi secara kontinu.
Data historis menunjukkan distribusi dari ORF Porong pernah mencakup pasokan kepada PLN, PGN, Petrokimia Gresik, Pertagas Niaga Waru, serta pelanggan di kawasan Gresik. Pada salah satu periode operasi yang terdokumentasi, volume yang disalurkan mencapai sekitar 326 MMSCFD.
Dalam perkembangan jaringan berikutnya, gas dari Jawa Timur juga dapat bergerak menuju jaringan yang lebih luas. Dari Gresik, jaringan transmisi terhubung dengan ruas Gresik–Semarang. Selanjutnya, jaringan tersebut berintegrasi dengan sistem Cirebon–Semarang (Cisem).
Di titik inilah makna ORF Porong menjadi lebih besar. Fasilitas tersebut bukan hanya soal kebutuhan energi Sidoarjo atau Gresik. Ia menjadi salah satu mata rantai yang memungkinkan gas bumi bergerak dari kawasan produksi di timur menuju pusat-pusat konsumsi di wilayah Jawa lainnya.
Bagi masyarakat, perjalanan gas sepanjang ratusan kilometer itu mungkin tidak terlihat. Yang terlihat adalah listrik yang menyala. Pabrik yang terus berproduksi. Mesin industri yang tetap bekerja. Pupuk yang diproduksi. Aktivitas ekonomi yang berjalan.
Di belakang semua itu terdapat jaringan infrastruktur yang harus bekerja tanpa banyak ruang untuk berhenti. Gas bumi membutuhkan sistem transmisi yang andal karena konsumennya juga membutuhkan kepastian pasokan.
“Alhamdulillah sejauh ini belum pernah ada gangguan pasokan baik dari sumber maupun penerima,” ujar Maura Gomez yang aslinya kelahiran Prabumulih, Sumatra Selatan itu.
Karena itu, ORF Porong tidak sekadar menjadi tempat gas "datang dan pergi". Didalamnya berlangsung proses pengaturan aliran, pengukuran, serta pengendalian agar gas dapat disalurkan sesuai kebutuhan.
Dengan kata lain, ORF Porong berada di tengah sebuah rantai energi yang panjang. Ia merupakan salah satu simpul dalam jaringan yang menghubungkan sumber gas dengan pusat konsumsi.