REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mendongkrak harga ayam dan telur di tingkat peternak. Setelah sempat tertekan, harga kedua komoditas tersebut mulai merangkak naik dan mendekati Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen.
"Kalau data kami dan juga bertanya kepada teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi, MBG itu ada pengaruhnya. Sekarang telah melewati bulan Suro, sekaligus mulai masuk sekolah, MBG dimulai. Ini sudah mulai merangkak naik," kata Ketut di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Data Bapanas menunjukkan rerata harga ayam broiler di tingkat peternak naik 4,11 persen dalam sepekan. Per 14 Juli 2026, harga ayam broiler mencapai Rp 21.736 per kilogram (kg) berat hidup, meningkat dari Rp 20.878 per kg pada sepekan sebelumnya.
Meski demikian, harga ayam broiler masih bervariasi antarwilayah. Di Sumatera Selatan, rerata harga tercatat Rp 18.125 per kg berat hidup, sedangkan di Riau mencapai Rp 25.600 per kg berat hidup atau telah melampaui HAP sebesar Rp 25.000 per kg berat hidup.
Harga telur ayam ras di tingkat peternak juga menunjukkan tren positif. Per 14 Juli 2026, rerata harga nasional berada di Rp 22.644 per kg atau naik 0,66 persen dibandingkan dengan sepekan sebelumnya sebesar Rp 22.495 per kg.
Rerata harga telur terendah tercatat di Banten sebesar Rp 20.300 per kg, sedangkan yang tertinggi berada di Sulawesi Utara, yakni mencapai Rp 28.200 per kg. Adapun HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp 26.500 per kg.
"Sekarang untuk petelur sudah mulai antara Rp 20.000 sampai Rp 21.000, sudah mulai naik perlahan. Kita lihat nanti ke depannya karena akan naik terus. Tapi tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," ujar Ketut.
Menurut dia, penurunan harga sebelumnya dipicu oleh melemahnya permintaan masyarakat terhadap telur dan daging ayam, terutama selama bulan Suro ketika aktivitas hajatan berkurang. Kondisi tersebut membuat harga di tingkat peternak mengalami koreksi.
Ketut optimistis harga unggas akan terus membaik seiring berakhirnya bulan Suro dan meningkatnya penyerapan melalui program MBG.
"Tapi sekali lagi, dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget. Nah, kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita," katanya.