REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut dampak dimulainya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan periode tahun ajaran baru terhadap inflasi pangan pada Juli 2026 masih memerlukan kajian lebih mendalam. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan BPS belum dapat menyimpulkan secara langsung apakah kedua faktor tersebut telah memberikan tekanan terhadap inflasi.
"Untuk mengetahui apakah periode tahun ajaran baru dan dimulainya kembali pelaksanaan program MBG pada Juli 2026 berpengaruh atau tidak terhadap inflasi, tentunya diperlukan kajian secara khusus," kata Ateng dalam konferensi pers BPS di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Ateng menilai analisis khusus diperlukan untuk memastikan hubungan antara pelaksanaan MBG dan perkembangan inflasi pangan. Menurut dia, pengaruh program tersebut tidak bisa langsung disimpulkan dari data inflasi bulanan yang ada.
Meski demikian, Ateng menjelaskan terdapat sejumlah komoditas pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi bulanan pada Juli 2026 serta memberikan andil terhadap inflasi umum. Komoditas tersebut antara lain beras, bawang putih, dan ketimun.
"Secara umum dapat disampaikan ada beberapa komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi dan memberikan andil terhadap inflasi bulanan pada Juli 2026," ungkap Ateng.
Ateng menjelaskan beras mengalami inflasi sebesar 0,49 persen dengan andil inflasi 0,02 persen. Sementara itu, bawang putih mencatat inflasi sebesar 3,33 persen dan memberikan andil sebesar 0,01 persen terhadap inflasi.
Selain itu, kata dia, ketimun menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga cukup tinggi pada Juli 2026. Menurut Ateng, inflasi ketimun mencapai 17,44 persen, meskipun kontribusinya terhadap inflasi umum tetap terbatas.
"Ketimun mengalami inflasi cukup besar pada Juli 2026 sebesar 17,44 persen dan memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,01 persen," kata Ateng.
View this post on Instagram