REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga minyak dunia pada perdagangan Kamis (25/6/2026) mengalami penurunan seiring dibukanya Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Merosotnya harga minyak dunia diprediksi akan mendorong penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi setelah sebelumnya sempat melonjak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
"Transportasi minyak mentah dunia melalui Selat Hormuz sebesar 20 persen saat ini sudah kembali normal. Sehingga bersamaan dengan dibukanya Selat Hormuz, transportasi berjalan lancar dan membuat harga minyak mentah mengalami penurunan yang cukup signifikan," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (25/6/2026).
Terpantau, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Adapun harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global turun 4 persen ke level sekitar 73 dolar AS per barel.
Harga minyak mentah dunia sebelumnya melambung tinggi di tengah konflik Timur Tengah hingga menembus 120 dolar AS per barel. Seiring langkah gencatan senjata antara AS dan Iran serta dibukanya Selat Hormuz, harga minyak pun mulai mereda.
"Apalagi kita melihat bahwa saat ini terjadi oversupply. Bahkan di pasaran harga minyak mentah dunia ada yang dijual 10 dolar AS per barel. Artinya, oversupply cukup besar. Produksi yang sebelumnya 103,1 juta barel per hari saat ini menjadi 103,3 juta barel per hari. Sedangkan permintaan yang tadinya 100 juta barel per hari turun menjadi di bawah 100 juta barel per hari," terangnya.
Ibrahim memprediksi seiring kondisi tersebut harga minyak mentah akan terus mengalami penurunan. Bahkan, pada pekan depan harganya berpotensi menyentuh level 65 dolar AS per barel. Ia kemudian menyoroti perlunya pemerintah Indonesia melakukan penyesuaian sejalan dengan turunnya harga minyak dunia. Menurut dia, harga BBM non-subsidi yang belakangan naik tajam sudah dapat diturunkan.
"Kemungkinan besar ini masih akan terus berlanjut pada Juli. Dan pemerintah wajib menurunkan harga BBM non-subsidi, terutama Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, dan lain-lain. Karena harga minyak dunia sudah berada di bawah asumsi APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), yakni 70 dolar AS per barel," jelasnya.
Menurut prediksinya, pemerintah akan menurunkan harga BBM non-subsidi dalam waktu sekitar lima hari ke depan.