REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah bakal segera rebound. Hal itu seiring dengan upaya pemerintah terus menguatkan pertumbuhan ekonomi, sekaligus mencermati perkembangan perang di Timur Tengah yang dinilai akan mereda.
Pernyataan Purbaya disampaikan dalam Konferensi Pers Persiapan Operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada Ahad (31/5/2026). Hal itu disampaikannya saat salah satu media asing bertanya soal pelemahan rupiah yang dikhawatirkan berdampak terhadap kondisi ekonomi Indonesia, terutama terhadap rumah tangga berpendapatan rendah.
“Dari sisi anggaran, kami telah menghitung dampak depresiasi rupiah pada level saat ini, dan anggaran negara masih dalam kondisi aman meskipun rupiah melemah hingga level sekarang,” kata Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Ahad (31/5/2026).
Ia menuturkan, secara teori, jika sebuah negara memiliki perekonomian yang kuat maka mata uangnya pada akhirnya juga akan menguat. Indonesia diketahui telah mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi pada kuartal I 2026 yakni 5,61 persen. Capaian tersebut dinilai menggambarkan ekonomi domestik kuat, dan akan memberi imbas pada penguatan rupiah.
“Saat ini fokus saya adalah memastikan ekonomi domestik terus tumbuh kuat, baik dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Pertumbuhan tersebut pada akhirnya akan menguatkan nilai tukar rupiah secara alami,” tuturnya.
Bendahara negara tersebut menekankan optimismenya bahwa investor terutama investor asing langsung (FDI) maupun investor asing lainnya akan menanamkan modal di negara yang menawarkan prospek pertumbuhan paling menjanjikan di kawasan. “Kami tumbuh lebih cepat dibandingkan banyak negara lain, bahkan di kelompok G20 kita berada di posisi kedua setelah India, jadi prospek ekonomi kami kuat,” tegasnya.