Senin 11 May 2026 17:45 WIB

Bahlil Perkirakan Minyak dari Rusia Dikirim dalam 1-2 Pekan

Kontrak impor minyak Rusia telah rampung dan tinggal menunggu teknis pengiriman.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Gita Amanda
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memperkirakan minyak mentah (crude) impor dari Rusia akan dikirim dalam 1-2 pekan ke depan. (ilustrasi)
Foto: Tangkapan layar
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memperkirakan minyak mentah (crude) impor dari Rusia akan dikirim dalam 1-2 pekan ke depan. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memperkirakan minyak mentah (crude) impor dari Rusia akan dikirim dalam 1-2 pekan ke depan setelah merampungkan teknis pengiriman.

“Sekarang bicara tentang teknik pengirimannya. Mungkin satu-dua minggu ini sudah bisa, ya,” ujar Bahlil ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Baca Juga

Ia menyampaikan sejauh ini Indonesia dan Rusia sudah mencapai kesepakatan soal pembelian minyak mentah dari Rusia. Kontrak pun sudah ditandatangani dan kini tinggal menunggu tuntasnya pembicaraan soal teknis pengiriman. “Secara deal sudah, kontrak sudah,” ucap Bahlil.

Langkah tersebut menjadi bagian dari realisasi komitmen impor minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan dilakukan secara bertahap hingga akhir 2026. Kesepakatan itu merupakan hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.

Pada Jumat (24/4/2026), Wakil Menteri ESDM Yuliot menyampaikan pemerintah sedang menyiapkan regulasi atau payung hukum untuk mengatur rencana impor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.

Terdapat dua opsi yang sedang dipertimbangkan pemerintah untuk mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia.

Opsi pertama adalah mengimpor langsung melalui badan usaha milik negara (BUMN). Opsi kedua ialah mengimpor melalui badan layanan umum (BLU).

Apabila menggunakan opsi pertama, Yuliot mengatakan terdapat konsekuensi tersendiri jika BUMN melakukan impor dari Rusia, mengingat BUMN sudah memiliki kontrak pengadaan minyak dengan pihak lain.

Karena itu, opsi lain yang sedang dipertimbangkan ialah mengimpor melalui BLU. Ia berharap terdapat kemudahan, termasuk pembiayaan, apabila impor dilakukan melalui BLU.

“Ini juga lagi kami bahas antara kementerian/lembaga. Itu juga dengan badan usaha, termasuk bagaimana pada saat impor, jalur mana yang akan digunakan,” ujar Yuliot.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement