REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Jumlah investor pasar modal terus bertambah, namun sebagian besar masih berada pada tahap awal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, dari 26,12 juta investor per 24 April 2026, mayoritas memulai investasi melalui reksa dana
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, reksa dana menjadi pintu masuk utama bagi investor baru.
“Mayoritas investor memulai melalui produk dan layanan reksa dana, yang menjadi pintu masuk utama bagi investor pemula,” ujar Hasan dalam peluncuran program Pintar Reksa Dana dan Pekan Reksa Dana 2026 di Main Hall Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (27/4/2026).
Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan pasar modal semakin inklusif. Namun, di saat yang sama, literasi dan perlindungan investor perlu terus diperkuat.
“Dana yang diinvestasikan, sekecil apa pun, merupakan aset berharga yang harus dikelola dengan integritas tinggi dan mengedepankan perlindungan investor,” kata Hasan.
Dominasi investor pemula juga terlihat dari sisi usia. Sebanyak 54,71 persen investor berusia di bawah 30 tahun. Kelompok ini menjadi penopang pertumbuhan investor dalam beberapa tahun terakhir.
Meski jumlah investor meningkat pesat, penetrasinya masih relatif rendah. Ketua Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Lolita Liliana menyebut, jumlah investor saat ini baru sekitar 8 persen dari total penduduk.
“Jumlah investor sekitar 26 juta, itu masih sekitar 8 persen dari jumlah penduduk. Jadi tentu saja masih ada tantangan dan juga peluang,” ujar Lolita.