Jumat 17 Apr 2026 17:00 WIB

Harga Plastik Naik, Industri Mulai Tertekan

Kondisi saat ini menjadi indikasi awal krisis stok bahan baku.

Rep: M. Nursyamsyi/ Red: Satria K Yudha
Pedagang menunjukkan kantong plastik di salah satu toko plastik di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Harga berbagai produk berbahan plastik mengalami kenaikan di sejumlah daerah dengan lonjakan yang cukup tinggi. Menurut pedagang, kenaikan harga mencapai hingga 80 persen, dengan rata-rata kenaikan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000. Sebagai contoh, harga kantong kresek ukuran 24 naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 per pak. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam tiga minggu terakhir. Penyebab utamanya adalah gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah akibat konflik, yang menghambat impor nafta yang merupakan produk turunan minyak bumi.
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang menunjukkan kantong plastik di salah satu toko plastik di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Harga berbagai produk berbahan plastik mengalami kenaikan di sejumlah daerah dengan lonjakan yang cukup tinggi. Menurut pedagang, kenaikan harga mencapai hingga 80 persen, dengan rata-rata kenaikan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000. Sebagai contoh, harga kantong kresek ukuran 24 naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 per pak. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam tiga minggu terakhir. Penyebab utamanya adalah gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah akibat konflik, yang menghambat impor nafta yang merupakan produk turunan minyak bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lonjakan harga plastik memberikan tekanan  pada industri manufaktur. Gangguan rantai pasok global mulai berdampak langsung pada ketersediaan bahan baku di dalam negeri.

Kenaikan ini mencerminkan ketergantungan tinggi industri terhadap impor bahan baku. Founder & Chairman Supply Chain Indonesia Setijadi mengatakan, lonjakan harga plastik terjadi akibat terganggunya pasokan bahan baku impor. “Hal ini mencerminkan gangguan pasokan bahan baku impor yang menjadi input utama berbagai sektor manufaktur,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga

Ia menilai kondisi ini bukan sekadar kenaikan harga, tetapi indikasi awal krisis stok bahan baku. Selain plastik, gangguan juga terjadi pada bahan kimia seperti sulfur dan acid, logam seperti aluminium, hingga material kritikal seperti helium.

“Banyak dari material tersebut sulit disubstitusi dalam jangka pendek, sehingga berdampak langsung pada proses produksi,” kata Setijadi.

Ketergantungan terhadap impor dinilai memperbesar risiko. Lebih dari 70 persen kebutuhan bahan baku industri nasional masih dipenuhi dari luar negeri, terutama di sektor kimia dan petrokimia.

Menurut Setijadi, gangguan ini bersifat multimaterial shortage atau terjadi pada banyak jenis bahan baku sekaligus. Dampaknya tidak hanya menaikkan harga, tetapi juga berpotensi mengganggu ketersediaan material di pabrik.

Dalam jangka pendek, kondisi ini dapat meningkatkan lead time, menekan kapasitas produksi, hingga mendorong kenaikan harga produk di pasar. Risiko tersebut dapat mengganggu kontinuitas produksi jika tidak diantisipasi.

Setijadi mengingatkan, tanpa mitigasi cepat, gangguan ini bisa menjadi hambatan struktural bagi industri. Di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang untuk memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.

SCI merekomendasikan sejumlah langkah, mulai dari diversifikasi sumber pasokan hingga penguatan industri bahan baku dalam negeri. Selain itu, peningkatan visibilitas rantai pasok dan pemanfaatan teknologi dinilai penting untuk mendeteksi gangguan lebih dini.

Pengembangan alternatif bahan baku juga dinilai perlu untuk mengurangi ketergantungan pada material tertentu. Upaya ini memerlukan kolaborasi antara sektor industri dan pemerintah.

Penguatan sektor hulu domestik menjadi kunci jangka panjang. Integrasi rantai pasok dari hulu hingga hilir diharapkan mampu meningkatkan daya tahan industri terhadap tekanan global.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement