REPUBLIKA.CO.ID,
JAKARTA -- Perebutan pasar kini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling sering muncul di layar konsumen, melainkan siapa yang paling mampu memenangkan kepercayaan saat konsumen mulai membandingkan pilihan. Praktisi branding digital, sekaligus konsultan di Kernel Future, Alvin menyebut strategi digital yang matang harus berfungsi sebagai mesin positioning yang menajamkan makna dan memperkecil keraguan.
Menavigasi Era Data dan Kepercayaan Konsumen
Alvin menegaskan bahwa konsistensi di setiap titik temu adalah kunci utama. “Strategi digital harus bekerja seperti mesin positioning yang menajamkan makna, memperkecil keraguan, dan membuat brand terasa konsisten di setiap titik temu. Brand kuat lahir dari data, bukan sekadar kreativitas,” ujar Alvin.
Pandangan ini diperkuat oleh laporan dari McKinsey & Company (2025) yang bertajuk The State of AI in 2025: Agents, Innovation, and Transformation. Hasil risetnya menunjukkan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan AI ke dalam pemasaran dan penjualan melaporkan peningkatan pendapatan tertinggi dibanding fungsi bisnis lainnya, serta 64% responden menyatakan bahwa AI menjadi pendorong utama inovasi. Lebih lanjut, perusahaan yang menetapkan pertumbuhan atau inovasi sebagai tujuan utama adopsi AI—bukan sekadar efisiensi—justru mencapai dampak finansial yang lebih besar.
Pernyataan ini mengemuka dalam konteks peluncuran buku dan e-course bertajuk Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap, sebuah karya yang disusun Alvin untuk membantu bisnis menghadapi kenaikan biaya iklan dan konten yang mudah ditiru.
Mengapa Keramaian Bukan Jaminan Posisi Brand
Alvin menekankan bahwa posisi brand pada dasarnya adalah jawaban yang muncul secara spontan di benak konsumen.
“Posisi brand adalah jawaban yang muncul di kepala konsumen ketika mereka bertanya, mengapa saya harus memilih ini, bukan yang lain,” kata dia.
Banyak brand terjebak dalam pengejaran awareness, namun lupa membangun sinyal keyakinan. Fenomena ini tercermin dalam Edelman Trust Barometer (2020) melalui laporan Special Report: Brand Trust in 2020, yang menyebutkan bahwa 59% konsumen kini lebih memercayai informasi dari “orang-orang seperti mereka”.
“Kalau pesan berubah-ubah, layanan tidak selaras, dan bukti sosial tidak terkurasi, keramaian hanya memperbesar kebingungan.”
Framework Branding: Dari Diagnosis hingga Eksekusi
Dalam membangun strategi yang solid, Alvin memperkenalkan kerangka kerja yang dimulai dari tahap diagnosis jujur untuk menemukan titik lemah positioning.
Diagnosis untuk Menemukan Titik Lemah Positioning
Tahap awal dimulai dari audit pada berbagai kanal komunikasi.
“Di tahap ini, data yang dicari bukan sekadar jumlah. Bisnis harus membaca pola pertanyaan, keberatan yang berulang, serta kata kunci pencarian yang mengindikasikan keraguan,” kata Alvin.
Validitas pendekatan ini didukung oleh penelitian dari Florencia & Paramita (2025) di Universitas Gadjah Mada (UGM) bertajuk The Impact of Perceived Quality, Brand Identification, Trust, and Lifestyle Congruence on Satisfaction and Loyalty Towards PT Bank Central Asia Tbk Digital Banking Services. Riset ini memperkuat bahwa analisis terhadap faktor kualitas dan kepercayaan sangat krusial dalam memetakan perilaku konsumen lokal secara akurat di pasar Indonesia.
Eksekusi yang Mengunci Diferensiasi
Langkah berikutnya adalah eksekusi yang konsisten. Alvin menegaskan bahwa meskipun format konten menyesuaikan platform, janji nilai tidak boleh berubah.
Keakuratan data sangat krusial di sini. Artikel dari McKinsey & Company (2016) bertajuk The Secret to Great Marketing Analytics? memverifikasi bahwa efisiensi pemasaran dapat ditingkatkan dalam rentang 15% sampai 30% melalui penggunaan analitik yang tepat.
Bardan Mahdali, mantan Director of Digital, Branding, Marketing, Strategy Forbes Indonesia, turut memberikan testimoninya.
“Kerangka berbasis data membantu tim menjaga disiplin positioning ketika tekanan tren dan kompetitor meningkat. Alat ini membantu tim marketing membedakan metrik perhatian dari metrik kepercayaan.”
Evaluasi dan Optimasi Berbasis Insight
Banyak laporan strategi digital terhenti pada angka tayangan, padahal posisi brand hanya menguat ketika kepercayaan pasar bergerak secara nyata.
Mengukur Kepercayaan, Bukan Hanya Paparan
Alvin mendorong tim untuk mulai mengukur kualitas sinyal, seperti meningkatnya spesifisitas pertanyaan calon pembeli.
“Metrik yang baik itu membantu kita memutuskan, bukan sekadar membuat dashboard terlihat hidup dan keren,” ujar Alvin.
Hal ini sejalan dengan temuan BrightLocal (2026) dalam riset Local Consumer Review Survey 2026 yang menyatakan bahwa ulasan online kini menjadi filter utama bagi konsumen.
Kreativitas sebagai Output dari Kejelasan
Sebagai penutup, Alvin menegaskan bahwa kreativitas yang kuat justru lahir dari kejelasan wawasan.
“Kreativitas yang kuat lahir dari kejelasan insight. Ketika bisnis sudah tahu keberatan utama dan manfaat yang paling dicari, ide kreatif menjadi lebih tajam,” kata dia.
Prinsip-prinsip ini kini telah dirangkum ke dalam buku dan e-course Panduan Data Driven Digital Branding Lengkap sebagai panduan praktis bagi pelaku bisnis untuk memenangkan pasar di era data dan AI pada Maret 2026 ini.