Selasa 07 Apr 2026 17:46 WIB

BI Respons Pelemahan Rupiah, Optimalkan Instrumen Moneter di Tengah Krisis Global

Eskalasi perang Timur Tengah memicu tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Rep: Eva Rianti/ Red: Friska Yolandha
Bank Indonesia (BI) menanggapi pelemahan rupiah menuju posisi Rp 17.100 per dolar AS pada Selasa (7/4/2026).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Bank Indonesia (BI) menanggapi pelemahan rupiah menuju posisi Rp 17.100 per dolar AS pada Selasa (7/4/2026).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) menanggapi pelemahan rupiah menuju posisi Rp 17.100 per dolar AS pada Selasa (7/4/2026). Bank Sentral menyampaikan, terkoreksinya Mata Uang Garuda terjadi seiring dengan kondisi tingginya ketidakpastian global akibat eskalasi perang di Timur Tengah. 

"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI). Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026). 

Baca Juga

Destry memastikan, BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF maupun NDF di offshore market. Sehingga stabilitas rupiah bisa dijaga.

"Dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah, di mana kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara ekspotir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut," terangnya. 

Diketahui, mengutip Bloomberg, rupiah melemah 70 poin atau 0,41 persen menuju level Rp 17.105 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.035 per dolar AS. 

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, terus bergulirnya peperangan di Timur Tengah menjadi sentimen eksternal pelemahan rupiah. Terutama dampak dari penutupan Selat Hormuz. 

"Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026). 

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement