REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) dilaporkan Wall Street Journal (WSJ) Rabu (18/3/2026), meminta Israel untuk tidak lagi menyerang fasilitas energi Iran setelah pusat kilang gas terbesar Iran di selatan Pars dibom oleh serangan udara Zionis. Laporan WSJ juga menyebut bahwa Trump awalnya memberi lampu hijau kepada Israel melancarkan serangan ke Pars.
Kini, Trump meminta Israel untuk tak lagi menargetkan fasilitas energi Iran. Permintaan Trump itu diketahui setelah Iran melancarkan serangan balasan menergetkan kilang-kilang negara Teluk seperti di Arab Saudi, Qatar, dan Bahrain.
Menurut sumber WSJ, alasan Trump menyetujui serangan Israel terhadap ladang gas Pars, adalah sebagai pesan untuk Teheran atas tindakan menutup Selat Hormuz. Washington menurut sumber itu, saat ini menunggu respons Iran apakah akan mengambil keputusan strategis terhadap Selat Hormuz.
Komentar Trump bersamaan dengan serangan terhadap Kota Industri Ras Laffan di Qatar pada Rabu malam yang menyebabkan kebakaran hebat dan kerusakan parah. Serangan itu setelah Iran menjanjikan balasan atas serangan Israel ke ladang gas selatan Pars.
Aljazirah melansir, pabrik tersebut, yang terletak di timur laut negara tersebut, merupakan fasilitas produksi gas alam cair atau liquid natural gas (LNG) terbesar di dunia. Qatar sendiri memproduksi 20 persen produksi LNG global.
Kementerian Pertahanan Qatar mengatakan negara Teluk itu diserang Iran, yang melibatkan lima rudal balistik. Pernyataannya yang dipublikasikan di X mengatakan angkatan bersenjata negara tersebut mencegat empat rudal, sementara satu rudal jatuh di Kota Industri Ras Laffan, sehingga menyebabkan kebakaran.
“Tim Pertahanan Sipil saat ini merespons dan berupaya memadamkan api,” kata kementerian itu. Setelah serangan pertama, Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan bahwa pertahanan udaranya berhasil mencegat dua rudal balistik yang ditujukan ke Ras Laffan.
QatarEnergy mengonfirmasi bahwa Kota Industri Ras Laffan menjadi sasaran serangan rudal semalam. "Tim tanggap darurat segera dikerahkan untuk memadamkan api, karena kerusakan parah telah terjadi. Semua personel telah dikerahkan dan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan saat ini," kata perusahaan itu.
Patut dicatat, Qatar adalah salah satu negara Teluk penyedia pangkalan militer untuk Amerika Serikat. Pangkalan Udara Al Udeid di negara itu merupakan instalasi militer AS terbesar di Timur Tengah, menampung sekitar 10.000 personel AS dan markas besar Komando Pusat AS (CENTCOM). Al Udeid merupakan pusat utama operasi udara dan intelijen AS di Timur Tengah.