REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Tingkat produksi minyak di seantero kawasan Teluk Persia anjlok hingga hampir 7 juta barel per hari (bpd) karena krisis di Selat Hormuz, demikian menurut lembaga kajian perminyakan Argus. Argus menyampaikan bahwa Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain telah mengikuti langkah Irak dan Kuwait dalam membatasi produksi karena tidak bisa melanjutkan ekspor akibat penutupan Selat Hormuz.
Pembatasan produksi harus dilakukan mengingat fasilitas penyimpanan minyak yang ada terisi penuh semua dalam waktu singkat. Karena hal tersebut, negara-negara Teluk mengurangi produksi minyak mereka sebesar 6,2 hingga 6,9 juta bpd dibandingkan tingkat produksi Februari, kata Argus.
Saudi Aramco, perusahaan BUMN minyak Saudi, telah menangguhkan operasi di tambang minyak lepas pantai Safaniya, Marjan, Zuluf, dan Abu Safa, menurut sejumlah sumber. Argus memperkirakan hal tersebut mengakibatkan produksi anjlok sekitar 2--2,5 juta bpd.
Menurut sumber lainnya, produksi minyak Irak yang pada Februari mencapai angka 4,42 juta bpd, jatuh ke angka 1,5--1,7 juta bpd sampai dengan 8 Maret, dan diperkirakan akan terus turun hingga angka 1,2--1,3 juta bpd.
Perusahaan minyak Kuwait KPC pada 7 Maret juga mengumumkan pengurangan produksi minyak dan tingkat penggunaan kilangnya. KPC mengumumkan keadaan kahar (force majeure) terkait pengiriman produk minyak mentahnya, sebagaimana pengumuman KPC yang didapat Reuters.
Produksi minyak Kuwait diketahui anjlok dari 2,59 juta bpd pada Februari menjadi 2 juta bpd saat ini, serta diperkirakan akan terus turun sampai angka 1,5 juta bpd karena menurunnya kapasitas kilang, menurut sumber kepada Argus.
View this post on Instagram