Sabtu 14 Mar 2026 16:52 WIB

Daya Beli Kelas Menengah Terancam di Tengah Tekanan Global

Indef nilai daya beli masyarakat harus dijaga di tengah tekanan global.

Pengendara motor mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite secara mandiri di SPBU Coco di  Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (11/3/2026). Pemerintah Kota Pontianak bersama PT Pertamina Patra Niaga Kalimantan Barat memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) di Kota Pontianak dalam kondisi aman serta mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan, sementara TNI/Polri menegaskan untuk memperketat pengawasan distribusi guna mencegah penimbunan BBM.
Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Pengendara motor mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite secara mandiri di SPBU Coco di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (11/3/2026). Pemerintah Kota Pontianak bersama PT Pertamina Patra Niaga Kalimantan Barat memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) di Kota Pontianak dalam kondisi aman serta mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan, sementara TNI/Polri menegaskan untuk memperketat pengawasan distribusi guna mencegah penimbunan BBM.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) kelompok masyarakat menengah ke bawah menjadi pihak yang paling rentan terdampak dari tekanan tersebut. Jika daya beli kelompok ini melemah, maka konsumsi rumah tangga yang merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi nasional juga akan ikut tertekan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai intervensi pemerintah diperlukan agar guncangan eksternal tidak langsung menghantam daya beli masyarakat.

Baca Juga

“Kebutuhan kebijakan tentu menuntut daya beli atau juga consumption rumah tangga ini diintervensi,” ujarnya dalam diskusi daring dipantau dari Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

 

Menurutnya, daya beli masyarakat harus menjadi prioritas utama untuk dijaga di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global yang dipicu gejolak geopolitik dan kenaikan harga energi. Stabilitas daya beli masyarakat menjadi kunci, karena struktur ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.

“Karena struktur ekonomi kita sangat tergantung kepada konsumsi, 53 persen konsumsi, mau tidak mau harus dijaga dan harus diselamatkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan dinamika ekonomi global saat ini dipengaruhi kondisi Amerika Serikat yang tengah menghadapi tekanan fiskal dan perdagangan. Defisit anggaran negara tersebut mencapai sekitar 6,5 persen, sementara total utang telah menembus sekitar 127 triliun dolar AS.

Selain itu, defisit perdagangan yang besar juga mendorong berbagai kebijakan ekonomi ekspansif dari Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas ekonominya.

“Sehingga kemudian membuat sebuah kebijakan ATE, ART atau hambatan dagang, kemudian kebijakan ekspansional seperti sekarang atau openship, di mana semuanya untuk menjaga stabilitas ekonominya Amerika,” kata Rizal.

Menurut dia, berbagai kebijakan tersebut turut memengaruhi perekonomian global dan berdampak terhadap negara lain, termasuk Indonesia. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan serius terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi geopolitik, karena saat ini harga minyak jenis Brent telah mendekati bahkan berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel.

Jika tren tersebut berlanjut, kata dia, maka tekanan inflasi energi akan meningkat dan berpotensi memperbesar defisit fiskal negara-negara importir energi seperti Indonesia. Selain itu, volatilitas nilai tukar dan pasar keuangan global juga menurut dia dapat meningkat sehingga memperberat kondisi ekonomi dalam negeri.

photo
Harga minyak mentah melonjak hingga 22% ke atas US$110 per barel pada pembukaan perdagangan, memperpanjang kenaikan rekor 36% pada pekan lalu, setelah sejumlah produsen besar di Timur Tengah memangkas produksi. - (Trading Economics)

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement