Senin 02 Mar 2026 13:45 WIB

Selat Hormuz Ditutup, Pemerintah Amankan Suplai Minyak Non-Timur Tengah

MoU Pertamina dengan perusahaan AS jadi langkah antisipasi.

Kapal induk USS Abraham Lincoln saat berlayar di Selat Hormuz di dekat Iran pada 2019.
Foto: Dok US Navy
Kapal induk USS Abraham Lincoln saat berlayar di Selat Hormuz di dekat Iran pada 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mengganggu pasokan minyak global serta mendorong kenaikan harga energi dunia. Kondisi tersebut menyusul langkah Iran yang menutup Selat Hormuz yang selama ini berperan sebagai jalur utama distribusi minyak dunia.

"Tentu kalau Iran sudah pasti yang terganggu adalah suplai minyak, dan suplai minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu. Belum juga Red Sea (Laut Merah). Jadi kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlangsung," ujar Airlangga di kantornya, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Baca Juga

Menanggapi situasi tersebut, Airlangga mengatakan pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan mengamankan sumber impor dari luar kawasan Timur Tengah.

Ia menyebut langkah itu antara lain dilakukan melalui nota kesepahaman (MoU) PT Pertamina (Persero) dengan sejumlah perusahaan minyak dan gas asal AS.

"Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain," kata dia.

Saat ditanya apakah konflik geopolitik akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi, Airlangga menilai dampaknya sangat bergantung pada durasi dan intensitas perang. Sebab, selain suplai minyak, sektor logistik dan pariwisata juga berisiko terdampak.

"Balik lagi kita monitor saja bahwa perang ini lama, atau perang 12 hari, atau perang seberapa jauh," tambahnya.

Pemerintah bakal terus memantau perkembangan situasi guna menyiapkan langkah penyesuaian kebijakan apabila diperlukan.

Terkait kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri, Airlangga mengakui bahwa harga energi memang cenderung meningkat saat terjadi konflik, seperti pada perang Rusia-Ukraina.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement