REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s menjadi pelajaran penting bagi penguatan tata kelola pasar modal nasional.
Wakil Ketua Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kadin Indonesia Shinta Kamdani mengatakan, kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, peran, dan fungsi pasar modal Indonesia.
“Reformasi pasar modal sangat penting. Kami juga telah menyampaikan kepada pemerintah bahwa ini merupakan kesempatan untuk meninjau kembali tata kelola serta peran dan fungsi pasar modal,” ujar Shinta dalam acara China Conference: Southeast Asia (CCSEA) 2026 yang digelar SCMP bersama Danantara Indonesia dan Kadin Indonesia di The St. Regis Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Shinta mengapresiasi rencana peningkatan porsi saham publik (free float) menjadi minimal 15 persen. Menurutnya, ketentuan tersebut merupakan praktik yang lazim diterapkan secara global untuk meningkatkan likuiditas dan kredibilitas pasar.
Dalam kesempatan tersebut, Shinta juga menyinggung proses demutualisasi lembaga pasar modal yang tengah berjalan seiring dengan rencana keterlibatan Danantara Indonesia.
“Dalam hal institusi itu sendiri, proses demutualisasi sedang dilakukan ke arah masuknya Danantara,” kata Shinta.
Ia menilai kehadiran Danantara Indonesia berpotensi membawa perbaikan signifikan dalam tata kelola pasar modal ke depan. Dunia usaha, lanjutnya, berharap reformasi dapat segera terealisasi mengingat besarnya dampak pasar modal terhadap iklim investasi dan citra ekonomi nasional.
“Kondisi ini bisa menjadi wake up call untuk mendorong reformasi berjalan, karena pasar modal memainkan peran yang sangat penting bagi citra Indonesia,” ujarnya.
Shinta juga mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam merespons keputusan lembaga pemeringkat internasional. Namun, ia menekankan pentingnya respons tersebut diikuti dengan langkah kebijakan yang tepat dan berkelanjutan.
“Kami dari dunia usaha akan terus mendukung, dan berharap pasar modal Indonesia dapat kembali pulih,” kata Shinta.