REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Phishing dan rekayasa sosial (social engineering) masih menjadi celah utama kejahatan digital karena memanfaatkan kelengahan manusia, meskipun sistem perbankan telah dilengkapi pengamanan berlapis.
Supervisor IT Security PT Bank Central Asia Tbk, Ferdinan Marlim, mengatakan modus tersebut paling sering digunakan pelaku kejahatan untuk mencuri data dan mengakses sistem. “Phishing dan social engineering ini sangat umum. Untuk perusahaan, banyak serangan phishing melalui email karena itu cara paling mudah untuk masuk,” kata Ferdinan dalam sesi Diskusi Hindari Phishing, Akses KBB Bisnis dan Layanan BCA dengan Aman di Mini Studio BCA Expoversary ICE BSD, Sabtu (7/2/2026).
Ia menjelaskan, banyak kasus kebocoran data berawal dari keberhasilan pelaku memanipulasi korban agar menyerahkan kredensial. “Banyak kasus kebocoran data global tahun lalu berawal dari social engineering, ketika staf berhasil diminta kredensialnya, seperti user ID dan password, lalu dimanfaatkan untuk masuk ke sistem,” ujarnya.
Menurut Ferdinan, dari sisi perusahaan, sistem pada dasarnya tidak mudah ditembus. Namun, faktor manusia kerap menjadi titik terlemah. “Kalau dari sisi perusahaan, sistem itu sebenarnya tidak mudah ditembus. Cara paling mudah memang lewat phishing dan social engineering,” katanya.
Selain penipuan berbasis manipulasi, serangan siber juga dapat mengganggu layanan transaksi. Salah satunya melalui serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang membuat sistem sibuk dan tidak mampu melayani transaksi.
“DDoS itu tujuannya membuat sistem kita sibuk, sehingga tidak mampu melayani transaksi,” ujar Ferdinan.
Untuk mengantisipasi berbagai modus tersebut, BCA menerapkan strategi keamanan berbasis tiga pilar, yakni people, process, dan technology. “Tidak bisa hanya memasang teknologi, tetapi orangnya tidak capable dan tidak aware,” kata Ferdinan.
Ia menambahkan, peningkatan kesadaran dilakukan secara rutin melalui edukasi dan simulasi penipuan. “Kami melakukan tes phishing, dilihat berapa banyak yang mengklik dan berapa yang sampai memasukkan data. Ini untuk memastikan karyawan benar-benar aware dan tidak sembarangan memasukkan kredensial,” ujarnya.
Langkah tersebut dinilai penting seiring dominasi transaksi digital. “Transaksi BCA itu secara frekuensi 99,8 persen sudah dilakukan secara digital,” kata Ferdinan.
Dengan tingginya aktivitas digital, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati menjaga data pribadi serta tidak mudah merespons pesan mencurigakan yang mengatasnamakan pihak mana pun.