Senin 26 Jan 2026 20:43 WIB

Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI, Ini Pokok-Pokok Pemikiran Thomas Djiwandono

Thomas mencetuskan sebuah konsep tematik yang dinamakan ‘GERAK’.

Rep: Eva Rianti/ Red: Friska Yolandha
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang juga Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengikuti uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Deputi Gubernur Bank Indonesia di ruang Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026). Thomas Djiwandono merupakan satu dari tiga nama calon Deputi Gubernur BI yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto, melalui  surat Presiden yang dikirim ke DPR RI.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang juga Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengikuti uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test calon Deputi Gubernur Bank Indonesia di ruang Komisi XI DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026). Thomas Djiwandono merupakan satu dari tiga nama calon Deputi Gubernur BI yang diusulkan Presiden Prabowo Subianto, melalui surat Presiden yang dikirim ke DPR RI.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Thomas Djiwandono terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk masa jabatan lima tahun mendatang. Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Komisi XI DPR RI usai Thomas menjalani uji kelayakan dan kepatutan/ fit and proper test pada Senin (26/1/2026) sore. 

Thomas mengungkapkan pokok-pokok pikirannya mengenai kebijakan moneter yang bakal jadi strategisnya ketika telah menduduki kursi Deputi Gubernur BI. Ia merangkum strateginya dengan satu kata: ‘GERAK’. 

Baca Juga

Thomas mengatakan, berbagai tantangan masih akan mengadang ke depan, diantaranya ketidakpastian ekonomi global, tingginya volatilitas di pasar keuangan, inflasi global yang cenderung mengalami tren penurunan. 

Kendati demikian, ia optimistis kondisi ekonomi domestik bisa didorong lebih positif. Menurutnya, inflasi yang rendah dan berada di kisaran target 2,5 persen plus minus 1 persen, akan memberi ruang untuk penguatan ekonomi Indonesia ke depan. 

Pertumbuhan ekonomi dinilai cukup resilien. Pada kuartal III 2025, tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,04 persen, dengan posisi inflasi di level 2,9 persen. Ia menyebut, aktivitas manufaktur Indonesia juga tetap ekspansif. 

Data lainnya juga cukup positif, seperti neraca perdagangan yang tercatat mengalami surplus 67 bulan berturut-turut, menunjukkan konsistensi. Cadangan devisa juga mendekati rekor tertinggi. 

“Ini memberikan beberapa peluang untuk kita, terutama nanti dari segi sinergi antara fiskal dan moneter,” ujar Thomas dalam paparan fit and proper test di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (26/1/2026). 

Dengan melihat kondisi global serta domestik, Thomas mencetuskan sebuah konsep tematik yang dinamakan ‘GERAK’. Konsep tersebut meliputi lima strategi tematik, sebagai sinyal arah kebijakan ke depan. 

“Yang pertama, ‘G’ adalah governance, yaitu kebijakan yang kuat dan kredibel. ‘E’ adalah efektivitas kebijakan, ‘R’ adalah resiliensi sistem keuangan, ‘A’ adalah akselerasi sinergi fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Dan yang terakhir ‘K’ adalah keberlanjutan transformasi keuangan. Lima hal ini bisa membangun atau mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan secara adaptif dan agile,” jelasnya. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement