REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Akademisi menilai wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia tidak bisa dipandang semata sebagai proyek energi. Pembangunan PLTN harus dibarengi pengembangan sumber daya manusia dan riset lintas disiplin.
Wakil Rektor IV Institut Teknologi PLN (ITPLN) Dr Ir M Ahsin Sidqi menyebut perkembangan teknologi nuklir global membuka peluang pemanfaatan yang lebih fleksibel. Model reaktor modular dinilai mengubah pendekatan lama terhadap PLTN.
“Dalam seminar internasional di Jakarta, mitra dari Italia menawarkan small modular reactor yang fleksibel, dari 1 sampai 5 megawatt. Bahkan ada yang bisa beroperasi 10 hingga 20 tahun tanpa refueling. Ini bisa dipakai langsung oleh industri, konsepnya seperti modular dibawa pakai truk,” kata dia melalui keterangannya, Kamis (22/1/2026).
Ia menekankan kesiapan akademik dan SDM perlu dibangun lebih dulu agar Indonesia tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Kolaborasi kampus, BUMN, dan asosiasi dipandang penting untuk membentuk ekosistem nuklir nasional.
“Sekarang perguruan tinggi, PLN, dan asosiasi sedang bergerak bersama untuk membangun kesadaran publik. Ini momentum Indonesia mandiri energi,” kata dia.
Ahsin menilai Indonesia memiliki modal sumber daya, baik bahan baku maupun tenaga ahli. Namun, penguasaan teknologi nuklir menuntut kepatuhan pada standar keselamatan dan tata kelola global.
“Bahan bakarnya relatif sedikit volumenya dengan besarnya daya listrik yang dibangkitkan dan seluruhnya diawali ketabahan oleh IAEA. Kalau Indonesia masuk nuklir, kita harus menjadi bagian penting negara maju dunia,” kata dia.
Wakil Rektor IV ITS Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Kealumnian Prof Agus Muhamad Hatta menyebut PLTN sebagai tantangan ilmiah yang kompleks. Keterlibatan banyak disiplin ilmu dinilai mutlak.
“PLTN itu multidisiplin. Tidak hanya teknik nuklir, tapi juga elektro, mesin, fisika, keselamatan, hingga otomasi. ITS siap terlibat dalam penyiapan SDM dan risetnya,” kata Agus.
General Manager PLN Puslitbang Mochamad Soleh menilai kesiapan SDM operator masih menjadi pekerjaan rumah utama. Peran perguruan tinggi disebut menentukan untuk menjawab keterbatasan tenaga ahli.
“Ini bagian dari capacity building dan awareness. Kompetensi operator PLTN di Indonesia masih terbatas, sehingga perlu fast track penyiapan SDM,” kata Soleh.
Ia menyebut satu unit PLTN membutuhkan sekitar 200 tenaga inti di luar tenaga pendukung. Dalam rencana awal, PLTN pertama ditargetkan berkapasitas total 500 megawatt di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.