Rabu 21 Jan 2026 16:41 WIB

BI Proyeksikan Ekonomi RI Menguat Meski Global Melambat

Konsumsi jadi penopang pertumbuhan.

Rep: Eva Rianti/ Red: Satria K Yudha
BI memproyeksikan ekonomi RI menguat pada tahun ini meski ekonomi global melambat.
Foto: PUSPA PERWITASARI/ANTARAFOTO
BI memproyeksikan ekonomi RI menguat pada tahun ini meski ekonomi global melambat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memproyeksikan ekonomi global melambat pada 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian. Namun, bank sentral menilai ekonomi Indonesia justru menguat dengan dukungan permintaan domestik.

“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan sedikit lebih rendah menjadi 3,2 persen dibandingkan 2025 sebesar 3,3 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI Januari 2026, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga

Perry menjelaskan perlambatan global dipengaruhi dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat dan kerentanan rantai pasok global, meski prospek ekonomi AS membaik didorong investasi teknologi dan kecerdasan buatan.

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Jepang, China, dan India pada 2026 diperkirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor, meski investasi AI terus meningkat.

Dari sisi pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate kian terbatas di tengah tingginya yield US Treasury dan defisit fiskal AS. Kondisi tersebut menahan aliran modal ke negara berkembang dan mendorong penguatan indeks dolar AS, sehingga membutuhkan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan domestik.

Di tengah perlambatan global, BI tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi Indonesia pada 2026. Perry menyebut pertumbuhan ekonomi nasional tetap baik dan perlu terus ditingkatkan sesuai kapasitas perekonomian.

Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 diperkirakan lebih tinggi, ditopang kenaikan permintaan domestik seiring membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan stimulus fiskal.

Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada kisaran 4,7–5,5 persen dengan kinerja positif sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta informasi dan komunikasi.

“Pada 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat dalam kisaran 4,9–5,7 persen, ditopang kenaikan permintaan domestik dan kebijakan pemerintah,” ujar Perry.

Ia menekankan efektivitas stimulus fiskal perlu diperkuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga dan penyerapan tenaga kerja. Investasi juga diperkirakan meningkat, didukung program prioritas pemerintah termasuk hilirisasi sumber daya alam guna memperkuat produktivitas dan kapasitas ekonomi.

Perry menegaskan BI terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi dengan kebijakan fiskal dan sektor riil untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement