Kamis 15 Jan 2026 06:55 WIB

Stimulus Rp110,7 Triliun, Pemerintah Pacu Ekspor Tekstil

Kondisi ekonomi Indonesia relatif lebih kuat dibandingkan banyak negara lain.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Satria K Yudha
Pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan, Jakarta, Kamis (23/10/2025).
Foto: ANTARA FOTO/Ika Maryani
Pekerja menyelesaikan pembuatan pakaian di Perkampungan Industri Kecil (PIK) Penggilingan, Jakarta, Kamis (23/10/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah menggelontorkan stimulus Rp110,7 triliun sepanjang tahun lalu dan menyiapkan langkah antisipasi menghadapi perang tarif global. Salah satu fokusnya adalah mendorong ekspor industri tekstil dari 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia relatif lebih kuat dibandingkan banyak negara lain. Hal itu tercermin dari pergerakan pasar dan aktivitas industri yang masih terjaga.

Baca Juga

“Indonesia, risiko resesinya dibanding negara lain relatif lebih kecil. Itu kata orang lain, bukan kata saya. Kemudian, kalau kita lihat IHSG juga bagus, berarti kepercayaan pasar relatif tinggi. PMI juga berada pada expansion mode,” kata Airlangga di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Airlangga menyampaikan, pemerintah telah menyalurkan stimulus ekonomi sebesar Rp110,7 triliun sepanjang tahun lalu. Ke depan, stimulus tersebut akan dievaluasi seiring dengan pelaksanaan program makan bergizi gratis. “Sepanjang tahun kemarin, kita (pemerintah) menggelontorkan stimulus senilai Rp110,7 triliun,” tuturnya.

Ia menilai, program makan bergizi gratis berpotensi mendorong pergerakan ekonomi karena cakupannya yang luas. “Dampaknya tentu kita lihat akan lebih meningkat, apalagi program makan bergizi gratis itu sudah mencapai skala hingga 60 juta piring,” jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah menyiapkan langkah menghadapi dampak perang tarif global. Menurut Airlangga, sektor yang paling berisiko terdampak adalah tekstil, alas kaki, garmen, dan elektronik.

“Yang di garis terdepan dalam tarif itu adalah yang risiko tinggi tertinggi itu di sektor tekstil, produk tekstil, sepatu, garmen, dan elektronik,” kata dia.

Khusus industri tekstil, pemerintah telah menyiapkan peta jalan jangka panjang untuk meningkatkan ekspor dan memperkuat industri dalam negeri. “Oleh karena itu, telah disusun roadmap untuk meningkatkan ekspor dari sekitar 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun,” ucap Airlangga. 

Ia juga menegaskan, langkah-langkah tersebut dilakukan agar Indonesia mampu menjaga ketahanan ekonomi di tengah tekanan global. “Semua ini menjadi prioritas agar Indonesia dapat bersikap defensif terhadap perang tarif yang terjadi saat ini,” kata Airlangga.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement