Senin 05 Jan 2026 15:30 WIB

Inflasi Aceh, Sumut, dan Sumbar Melonjak Imbas Bencana

Makanan dan minuman menjadi kelompok menyumbang inflasi terbesar.

Rep: Eva Rianti/ Red: Satria K Yudha
Pedagang berjualan di Pasar Pagi Baru, Takengon, Aceh Tengah, Aceh, Sabtu (27/12/2025). Sejumlah pedagang kembali beraktivitas di Pasar Pagi Baru dengan harga sembako yang mulai berangsur normal pascabencana banjir bandang.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pedagang berjualan di Pasar Pagi Baru, Takengon, Aceh Tengah, Aceh, Sabtu (27/12/2025). Sejumlah pedagang kembali beraktivitas di Pasar Pagi Baru dengan harga sembako yang mulai berangsur normal pascabencana banjir bandang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan tinggi tingkat inflasi di tiga wilayah terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Provinsi Aceh bahkan mencatat inflasi hingga 3,60 persen, melampaui target sasaran inflasi tahunan nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

“Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami inflasi pada Desember, setelah sebelumnya mengalami deflasi pada November 2025. Ketiga provinsi ini termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi,” kata Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (5/1/2026).

Baca Juga

Tercatat, tingkat inflasi di Provinsi Aceh pada Desember 2025 menembus 3,60 persen secara bulanan (month to month/mtm), melonjak dibandingkan November 2025 yang mengalami deflasi sebesar -0,67 persen.

Kemudian, tingkat inflasi di Provinsi Sumut pada Desember 2025 tercatat sebesar 1,66 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar -0,42 persen. Adapun di Sumbar, tingkat inflasi tercatat 1,48 persen pada Desember 2025, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar -0,24 persen.

Angka inflasi Desember 2025 di ketiga wilayah tersebut jauh di atas tingkat inflasi nasional. BPS mencatat, inflasi nasional pada Desember 2025 sebesar 0,64 persen, lebih tinggi dibandingkan November 2025 yang sebesar 0,17 persen.

“Penyebab inflasi di ketiga wilayah tersebut disebabkan oleh kenaikan harga komoditas akibat dampak bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025,” ujar Pudji.

Ia menerangkan, secara umum komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar di ketiga wilayah tersebut.

“Seperti di Aceh yang utamanya didorong oleh kenaikan harga beras. Kemudian Sumatera Utara didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, serta inflasi di Sumatera Barat yang utamanya didorong oleh bawang merah,” jelasnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement