Sabtu 03 Jan 2026 21:54 WIB

Perang AS–Venezuela Memanas, Bagaimana Aset Migas Pertamina di Venezuela?

Pada 2024, Indonesia berpotensi mendapat tambahan produksi migas dari Venezuela

PT Pertamina Internasional EP (PIEP), Regional Internasional melaksanakan pengapalan perdana (first lifting) minyak mentah sebesar 1 juta barel menuju Indonesia dari Port Arzew, Oran, Aljazair, pada Selasa (24/12/2025).
Foto: Dok Republika
PT Pertamina Internasional EP (PIEP), Regional Internasional melaksanakan pengapalan perdana (first lifting) minyak mentah sebesar 1 juta barel menuju Indonesia dari Port Arzew, Oran, Aljazair, pada Selasa (24/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Eskalasi konflik Amerika Serikat dan Venezuela berpotensi menambah risiko operasi dan nilai aset migas Indonesia di luar negeri. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keterlibatan PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Internasioanl EP di Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.

Pertamina mengelola portofolio hulu migas internasional melalui Pertamina Internasional EP dan entitas pengelolaan aset luar negeri, termasuk keterlibatan di Venezuela. Situs resmi Pertamina Internasional EP menyebut portofolio aset luar negeri Pertamina tersebar di 11 negara, termasuk Venezuela.

Baca Juga

Pada awal 2024, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut Pertamina memiliki eksposur lapangan migas di Venezuela melalui Maurel & Prom, dengan potensi sumber daya yang disebut mencapai 12 miliar barel. “Aset kita itu harus kita jaga,” kata Arifin saat itu.

Pertamina, melalui anak usaha internasionalnya, sebelumnya juga menyatakan sudah berinvestasi di Venezuela bersama PDVSA melalui aset yang dikelola Maurel & Prom.

Secara portofolio, aset hulu internasional Pertamina tersebar di berbagai negara sehingga tidak bertumpu pada satu wilayah saja. Namun Venezuela tetap tergolong pasar berisiko tinggi karena kombinasi faktor geopolitik, sanksi, dan dinamika internal industri migas setempat.

Pada Sabtu (3/1/2026), Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi militer AS di Venezuela berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan dibawa keluar dari Venezuela.

Sejumlah laporan menyebut fasilitas produksi dan kilang PDVSA tidak mengalami kerusakan akibat serangan tersebut, meski tekanan AS sebelumnya sudah memukul ekspor minyak Venezuela.

Di sisi lain, pengetatan penegakan sanksi AS terhadap pengiriman minyak Venezuela membuat aktivitas ekspor terganggu. Data S&P Global mencatat ekspor minyak mentah Venezuela turun menjadi 17,6 juta barel pada Desember, dari 27,2 juta barel pada November, seiring AS menyita kargo dan memperketat pengawasan tanker.

Kondisi itu membuat pelaku industri menilai risiko untuk seluruh rantai bisnis migas di Venezuela meningkat, mulai dari akses kapal dan terminal ekspor, asuransi dan pembiayaan, hingga stabilitas operasional dan kepastian kontrak.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement