Rabu 17 Dec 2025 16:05 WIB

BI: Ekonomi Global 2025 Diproyeksi Tumbuh 3,2 Persen

Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan kembali melambat akibat tekanan global.

Rep: Eva Rianti/ Red: Friska Yolandha
Bangunan Masjid Ar-Rahim Menara 165, Jakarta, Rabu (12/3/2025). Masjid Ar-Rahim merupakan salah satu masjid tertinggi di Jakarta yang dibangun di atas Menara 165 lantai 27 dengan kontur bangunan segitiga dan bertuliskan Allah dalam bahasa arab.  Masjid yang berada di gedung perkantoran tersebut memberikan daya tarik tersendiri yang menyajikan sensasi beribadah di atas ketinggian dengan pemandangan lanskap perkotaan yang dapat diakses oleh masyarakat umum.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Bangunan Masjid Ar-Rahim Menara 165, Jakarta, Rabu (12/3/2025). Masjid Ar-Rahim merupakan salah satu masjid tertinggi di Jakarta yang dibangun di atas Menara 165 lantai 27 dengan kontur bangunan segitiga dan bertuliskan Allah dalam bahasa arab. Masjid yang berada di gedung perkantoran tersebut memberikan daya tarik tersendiri yang menyajikan sensasi beribadah di atas ketinggian dengan pemandangan lanskap perkotaan yang dapat diakses oleh masyarakat umum.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyampaikan hasil evaluasi terkini mengenai kondisi perekonomian global dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Desember 2025. Bank sentral menilai ekonomi global menunjukkan perbaikan hingga akhir 2025 dan diperkirakan tumbuh sebesar 3,2 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan proyeksi pada hasil evaluasi RDG Bulan November 2025 sebesar 3,1 persen. Namun, proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan kembali melambat.

“Perekonomian global jangka pendek membaik, namun dengan ketidakpastian yang perlu terus diwaspadai. Pertumbuhan ekonomi dunia 2025 diprakirakan menjadi sekitar 3,2 persen,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG Bulan Desember 2025 yang digelar secara virtual, Rabu (17/12/2025).

Baca Juga

Perry menjelaskan proyeksi tersebut dipengaruhi peningkatan pertumbuhan ekonomi Jepang dan India yang didukung konsumsi rumah tangga serta kebijakan stimulus fiskal. Prospek ekonomi kawasan Eropa juga dinilai tetap baik, ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, serta kondisi ketenagakerjaan.

Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2025 dinilai masih melambat, dipengaruhi dampak temporary government shutdown dan pelemahan pasar tenaga kerja. Prospek ekonomi China juga terus melambat akibat permintaan domestik yang masih lemah.

Perry turut menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun berikutnya. Berdasarkan analisis BI, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan berbalik melemah menjadi 3 persen.

“Pada 2026, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melemah menjadi 3 persen, dipengaruhi dampak lanjutan tarif resiprokal AS dan kerentanan rantai pasok global,” terangnya.

Perry melanjutkan, di pasar keuangan global, Fed Funds Rate (FFR) turun 25 basis poin pada Desember 2025 dengan kecenderungan penurunan yang lebih terbatas ke depan. Tingkat imbal hasil (yield) US Treasury tenor dua tahun cenderung bergerak naik, sementara yield US Treasury tenor 10 tahun tetap tinggi sejalan dengan tingginya tingkat utang Pemerintah AS.

Perkembangan tersebut menyebabkan indeks mata uang AS (DXY) masih berada pada level tinggi dan aliran masuk modal asing ke negara berkembang (emerging market) tetap terbatas.

“Ke depan, ketidakpastian perekonomian global diperkirakan tetap tinggi dengan prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang masih lemah. Kondisi tersebut memerlukan kewaspadaan serta penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global dan mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi,” jelas Perry.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement