Senin 17 Aug 2026 17:50 WIB

Ekonomi Thailand dan Jepang Melambat karena Konsumsi Rumah Tangga, Bagaimana Indonesia?

Konsumsi rumah tangga dan belanja modal menjadi penekan pertumbuhan ekonomi.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Gita Amanda
Salah satu sudut kota Bangkok. Utang rumah tangga dan tingginya biaya hidup menekan konsumsi masyarakat Thailand.  (ilustrasi)
Foto: Flickr
Salah satu sudut kota Bangkok. Utang rumah tangga dan tingginya biaya hidup menekan konsumsi masyarakat Thailand. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Utang rumah tangga dan tingginya biaya hidup menekan konsumsi masyarakat Thailand. Ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 1,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026, melambat dari 2,8 persen pada kuartal sebelumnya.

Kepala National Economic and Social Development Council (NESDC) Danucha Pichayanan mengatakan ekonomi Thailand diperkirakan kembali menguat pada kuartal III. Dia menyebut kinerja ekonomi pada kuartal II cukup terdampak konflik di Timur Tengah.

Baca Juga

“Perekonomian diperkirakan tumbuh lebih kuat pada kuartal ketiga dibandingkan kuartal kedua, yang cukup terdampak oleh konflik di Timur Tengah,” kata Danucha dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Senin (17/8/2026).

Meski masih di atas perkiraan pasar sebesar 1,7 persen, pertumbuhan ekonomi Thailand melambat cukup tajam. Secara kuartalan dengan penyesuaian musiman, ekonomi Thailand bahkan terkontraksi 0,2 persen pada April-Juni 2026.

Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penekan pertumbuhan. Tingginya utang rumah tangga dan biaya hidup membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatan. Di saat yang sama, investasi pemerintah juga menurun.

Investasi swasta masih menjadi penopang ekonomi Thailand. Investasi swasta tumbuh 13,4 persen pada kuartal II, sementara ekspor barang juga meningkat. Namun, penguatan tersebut belum cukup mengangkat pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Thailand kemudian menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 2-2,5 persen, dari sebelumnya 1,5-2,5 persen.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi