Rabu 27 Mar 2024 16:53 WIB

Bapanas Soroti Kenaikan Harga Gula di Bali

Harga gula di Bali naik dari Rp 16.900 pada awal puasa jadi Rp 18 ribu – Rp 19 ribu.

Gula pasir kemasan.
Foto: Antara/Jojon
Gula pasir kemasan.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama unsur Satgas Pangan dan pemerintah daerah memantau harga bahan pokok penting di Bali. Mereka menyoroti harga gula yang mulai naik pada pertengahan Ramadhan 1445 Hijriah.

"Tadi kami sudah sama-sama di dalam pasar melihat ketersediaan pasokannya cukup, hanya saja ada tadi yang dilaporkan mengalami kenaikan terutama gula pasir atau gula konsumsi," kata Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas Maino Dwi Hartono di Pasar Badung Denpasar, Bali, Rabu (27/3/2024).

Baca Juga

Maino mengatakan, mendapati harga gula lokal menyentuh Rp 18.000 per kg dengan kesediaan stok aman dan Gulaku Rp 19.000 dengan pasokan terbatas. Komoditas tersebut mengalami kenaikan harga dari Rp 16.900 pada awal bulan puasa.

"Semua harus kita jaga termasuk komoditi pangan strategis lain, tapi terutama yang menjadi prioritas gula, yang harganya tinggi itu menjadi skala prioritas," ujarnya.

Menurut Bapanas, kondisi di setiap daerah berbeda-beda, seperti daerah sentra produsen dipastikan harganya akan berbeda dengan daerah yang tidak memproduksi bahan pokok tersebut. Namun, yang terpenting menjelang Hari Raya Idul Fitri adalah ketersediaannya, saat ini masih terkendali apalagi memasuki musim panen padi dan jagung yang akan mendukung pemerataan di daerah.

Umumnya, bahan pokok yang harganya akan melonjak menjelang Idul Fitri adalah daging ayam, daging sapi, dan telur, tetapi dua pekan menjelang Lebaran situasi tersebut tidak dilihat di Pasar Badung, Bali. 

Maino justru melihat harga daging masih tergolong murah yaitu daging sapi Rp 110 ribu per kg dan daging ayam Rp 37 ribu per kg, sehingga kenaikan harga pada gula menjadi catatan penting apalagi baru menginjak pertengahan Ramadhan.

Ia berharap kondisi baik di sejumlah komoditas ini bertahan hingga Lebaran, begitu pula sebaliknya, dengan catatan instansi terkait mendukung lewat penyebaran pasokan, seperti Bulog yang tidak hanya bisa menggelontorkan beras tetapi juga gula.

"Bulog punya cadangan gula juga mungkin bisa diintervensi ke masyarakat melalui pasar-pasar ya termasuk menggelar gerakan pangan murah atau bazar, intinya semua stakeholder pangan termasuk pemerintah akan mengamankan semua," kata Maino.

Ia memprediksi tujuh hari menjelang Idul Fitri tingkat pembelian masyarakat akan meningkat. Selain berupaya menjaga ketersediaan pasokan Bapanas berharap masyarakat juga turut membantu.

"Stop boros pangan, Indonesia negara kedua terbesar dalam urusan pangan, food waste, bijaklah dalam berbelanja, jangan panik, ketersediaan cukup, distribusi kami upayakan sehingga masyarakat tidak perlu panic buying," ujarnya.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement