Senin 18 Mar 2024 00:10 WIB

AS Hendak Larang TikTok, Kreator Konten Khawatirkan Periuk Nasi

Anggota parlemen menginginkan akses data pengguna AS kapanpun.

 Logo TikTok terlihat di Los Angeles, Kalifornia, AS, 15 Februari 2024.
Foto: EPA-EFE/ALLISON DINNER
Logo TikTok terlihat di Los Angeles, Kalifornia, AS, 15 Februari 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Satu dekade lalu, Alex Pearlman menghapus mimpinya untuk meniti karier sebagai seorang standup comedy. Ia berakhir di kubikel kantor menjalani pekerjaan customer service. Namun, aplikasi video TikTok membangkitkan kembali mimpinya. 

Semula ia memposting lelucon secara acak dan menyampaikan komentarnya mengenai budaya pop dan politik di TikTok. Lalu, ia memperoleh 2,5 juta pengikut di akunnya. Kemudian ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai customer service

Baca Juga

Akhir-akhir ini, ia merasakan tur nasional pertamanya sebagai seorang komedian. Tapi tampaknya, kekhawatiran semula kini menghampirinya kembali menyusul rencana pelarangan TikTok di AS karena dianggap sebagai ancaman nasional. 

Ia tak sendirian, kreator konten lain yang menggunakan TikTok sebagai sumber pencaharian merasakan kekhawatiran yang sama. Pelarangan terhadap TikTok berdampak secara ekonomis kepada mereka. Periuk nasi mereka terancam. 

Rabu (14/3/2024), House of Representative meloloskan RUU yang bisa mengarah pada pelarangan nasional TikTok jika pemilik aplikasi yang berbasis di Cina ini tak menjual sahamnya. DPR AS menyatakan, struktur kepemilikan TikTok saat ini jadi ancaman nasional. 

Dalam pemungutan suara, sebanyak 352 orang mendukungnya dan 65 lain menentang. Kini RUU ini akan dibahas di Senat. TikTok memiliki 170 juta pengguna di AS, sahamnya saat ini sepenuhnya dimiliki perusahaan teknologi Cina, ByteDance Ltd.

TikTok yang diluncurkan pada 2016, popularitasnya melampaui Instagram, Youtube, dan Facebook. Anggota parlemen, pejabat intelijen dan penegak hukum mengkhawatirkan data pengguna TikTok di AS disalahgunakan dan bisa jadi sarana menggaungkan propaganda Cina. 

TikTok menepis semua tudingan itu. Di sisi lain, Pemerintah AS belum pernah memberikan bukti yang menunjukkan TikTok membagikan data penggunanya di AS dengan Pemerintah Cina sebagai data intelijen. Anggota parlemen menginginkan akses data pengguna AS kapanpun. 

Para kreator konten menyatakan, larangan terhadap TikTok akan berimbas pada banyak orang dan usaha yang mengandalkan aplikasi ini untuk menghasilkan pendapatan. Platform ini juga sangat diandalkan dalam dialog dan komunitas. 

Pearlman, yang tinggal di pinggiran Philadelphia mengatakan, TikTok menstransformasi hidupnya. Membuatnya kembali membangkitkan mimpinya, berbagi momen dengan keluarga, membuatnya mendampingi bayi laki-lakinya selama tiga bulan di rumah. 

Kalau dia masih menjadi customer service, ia hanya bisa dapat jatah di rumah selama tiga pekan untuk mendampingi anak yang baru lahir.’’Tak satu hari pun saya tak memikirkan aplikasi ini,’’ katanya seperti dilansir Associated Press, Sabtu (16/3/2024).

Jensen Savannah (29) dari Charlotte memulai main TikTok mengenai perjalanannya di sekitar Carolina selama pandemi. Kini ia influencer penuh, pendapatannya meningkat tiga kali lipat melalui TikTok setelah ia meninggalkan bagian penjualan di perusahaan telekomunikasi. 

‘’Influencer media sosial hampir pasti akan dilirik sebagai bentuk baru iklan radio dan televisi. Ini akan membuat kalian mendapatkan dolar lebih banyak dibandingkan bentuk pemasaran seperti biasanya,’’ katanya. 

Bahkan sejumlah kreator konten menggambarkan TikTok sebagai bentuk persamaan dalam digital. Sebab ini menjadi platform bagi orang-orang kulit berwarna dan kelompok marginal lainnya mendapatkan kesempatan tampil dan terekspos. 

 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement