Senin 04 Mar 2024 17:45 WIB

Dirut Bulog Akui Bantuan Pangan tak Bisa Turunkan Harga Beras

Saat ini stok pangan bulog lebih dari 1,2 juta ton.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Lida Puspaningtyas
Warga membawa beras yang dibagikan saat penyaluran Bansos CBP di Kantor Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (4/3/2024). Pemerintah terus mengupayakan membantu masyarakat mendapatkan barang kebutuhan pokok terutama beras yang mengalami kenaikan harga melalui program Bulog Siaga dan penyaluran Bantuan Sosial Cadangan Beras Pemerintah (Bansos CBP) untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga masyarakat. Bulog Siaga menyediakan kebutuhan pokok berupa beras SPHP dua ton, beras premium 500 kilogram, gula pasir 100 kilogram, minyak goreng 120 liter dan tepung beras 24 kilogram yang dijual untuk masyarakat dengan harga yang lebih murah di pasaran. Sedangkan, Bansos CBP berupa beras yang dibagikan secara gratis diperuntukan bagi masyarakat di 12 RW Kelurahan Mulyaharja yang membutuhkan.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Warga membawa beras yang dibagikan saat penyaluran Bansos CBP di Kantor Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (4/3/2024). Pemerintah terus mengupayakan membantu masyarakat mendapatkan barang kebutuhan pokok terutama beras yang mengalami kenaikan harga melalui program Bulog Siaga dan penyaluran Bantuan Sosial Cadangan Beras Pemerintah (Bansos CBP) untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga masyarakat. Bulog Siaga menyediakan kebutuhan pokok berupa beras SPHP dua ton, beras premium 500 kilogram, gula pasir 100 kilogram, minyak goreng 120 liter dan tepung beras 24 kilogram yang dijual untuk masyarakat dengan harga yang lebih murah di pasaran. Sedangkan, Bansos CBP berupa beras yang dibagikan secara gratis diperuntukan bagi masyarakat di 12 RW Kelurahan Mulyaharja yang membutuhkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan, bantuan pangan beras yang digulirkan Pemerintah memang tidak dapat menurunkan harga beras di pasaran. Namun demikian, bantuan pangan kepada 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) ini membantu masyarakat kelompok rentan saat harga beras mengalami lonjakan.

"Kalau ada yang mengatakan bahwa bantuan pangan ini tidak berpengaruh terhadap penurunan harga, benar. Tetapi, ada 22 juta keluarga yang tidak lagi mencari beras secara terdesak untuk pergi ke pasar. Mereka ini yang paling sensitif dengan kenaikan harga," ujar Bayu dalam Rapat Koordinasi Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan Jelang Puasa dan Idulfitri, di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Senin (4/3/2024).

Baca Juga

Dengan tercukupinya kebutuhan masyarakat kelompok rentan, maka sama artinya mencukupi 45-50 persen kebutuhan keluarga tersebut dalam 1 bulan.

"Sehingga mereka cukup tenang untuk menjalani hari-hari karena mereka telah memiliki beras," ujarnya.

 

Karena itu, Bulog akan terus mempercepat penyaluran bantuan pangan hingga Juni. Setelah menyelesaikan penyaluran Januari-Februari, Bulog akan melanjutkan penyaluran Maret-April. Saat ini kata dia, ada sembilan daerah yang dilaporkan masih belum menyelesaikan proses verifikasi dan validasi.

"Kami laporkan saat ini terdapat 9 kabupaten lagi yang proses verifikasi dan validasinya belum selesai. Dan ini memang di beberapa daerah yang sulit kepulauan atau memang tempat yang sulit dijangkau. Ada beberapa masalah teknis tapi secara keseluruhan kita telah menyalurkan 360 ribu ton total bantuan pangan," ujarnya.

Sedangkan, untuk stok, Bayu menambahkan, dalam upaya menghadapi Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, Bulog menjaga jumlah stok cadangan beras pemerintah selalu cukup dan tersebar sesuai kebutuhan di seluruh Indonesia. Saat ini stok pangan bulog lebih dari 1,2 juta ton dan sekitar 400 ribu ton dalam perjalanan yang akan masuk sesuai jadwal.

"Kami laporkan menghadapi HBKN puasa dan Idul Fitri ada beberapa hal yang diusahakan Perum Bulog untuk turun mengamankan. Pertama adalah menjaga jumlah stok cadangan beras pemerintah untuk selalu cukup, tersebar sesuai kebutuhan di seluruh Indonesia. Saat ini yang ada di tangan Bulog lebih dari 1,2 juta ton dan kami laporkan juga dalam perjalanan untuk masuk gudang-gudang Bulog masih ada sekitar 400 ribu ton lagi, tentunya ini akan masuk sesuai dengan jadwalnya," ujar Bayu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement