Senin 04 Mar 2024 12:24 WIB

Pernah Gagal Lewati Laut Merah, Australia Coba Ekspor Lagi Sapi dan Domba ke Israel

Dua bulan lalu, pengapalan gagal sampai tujuan karena ancaman serangan Houthi.

Penggembalaan sapi dengan menggunakan helikopter di Australia.
Foto:

Josh Wilson, anggota parlemen dari Fremantle, menyatakan cobaan berat ini menunjukkan adangan berat bagi perdagangan ekspor ternak hidup ini. ‘’Bisa dibayangkankan 14 ribu domba menempuh perjalanan 60 hari di kapal dengan hawa yang panas,’’ ujarnya.

Tentu, menurut dia, sangat berat menerapkan standar kesejahteraan hewan seperti yang diharapkan Pemerintah Australia. Kementerian Pertanian Australia menyatakan tak ada bukti signifikan soal kesehatan ternak tersebut.

Kementerian juga bekerja sama dengan para pengekspor dan badan yang menaungi mereka untuk menjamin agar standar biosekuriti dan kesejahteraan hewan terjaga.

Geoff Pearson dari WA Farmers menuturkan, pihak eksportir, Bassem Dabbah Ltd, perusahaan Israel meminta Pemerintah Australia memberikan izin agar dapat memuat lebih banyak pakan dan pasokan obat ternak serta berlayar ke Israel melalui jalur Tanjung Harapan.

Manajemen Bassem Dabbah tak bisa dikontak. Manajer perusahaan kapal yang memuat ternak ini, Korkyra Shipping tak merespons. Australia merupakan pengekspor ternak hidup. Tahun lalu mereka mampu mengapalkan lebih dari sejuta domba dan 1,5 juta sapi.

Sebagian besar pasar sapi Australia adalah negara Asia seperti Indonesia dan Vietnam. Sedangkan domba kebanyakan diekspor ke wilayah Timur Tengah. Israel merupakan pasar utama yang menerima 86.100 domba senilai 6,5 juta dolar AS.

Sedangkan sapi mencapai 10.848 ekor dengan nilai sebesar 14 juta dolar AS. Ini data tiga bulan pertama 2023. Pemerintahan Australia berjanji melarang ekspor domba hidup dalam beberapa tahun ke depan.

Namun, rencana ini mendapat penentangan dari kelompok peternak yang menyatakan orang akan kehilangan pekerjaan dan menghancurkan komunitas peternak. Selandia Baru telah lebih dulu melarang ekspor ternak hidup.

Ini dilakukan setelah kapal yang membawa lebih dari 5.800 sapi tenggelam akibat cuaca buruk pada 2020. Insiden ini menyebabkan puluhan kru kapal hilang dan hewan-hewan yang mati mengapung di lautan. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement
Advertisement