Kamis 29 Feb 2024 20:51 WIB

Suplai Gas Murah Terkendala, Kemenperin Ungkap Penyebabnya

Bila suplai gas tidak bermasalah maka serapan program tersebut akan maksimal.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ahmad Fikri Noor
Kementerian Perindustrian mengumumkan Indeks Kepercayaan Industri per Februari 2024 di Gedung Kemenperin, Jakarta, Kamis (29/2/2024).
Foto: Republiika/Iit Septyaningsih
Kementerian Perindustrian mengumumkan Indeks Kepercayaan Industri per Februari 2024 di Gedung Kemenperin, Jakarta, Kamis (29/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) 6 dolar AS per MMBTU dinilai terkendala. Muncul permasalahan terkait suplai gas bumi ke industri.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arif menekankan, masalah itu bukan disebabkan oleh industri yang tidak mampu menyerap HGBT melainkan terdapat masalah dari sisi suplai.

Baca Juga

"Kami dapat informasi, ada permasalahan maintenance sehingga suplai HGBT kepada perusahaan industri peserta program HGBT jadi tersendat. Masalahnya bukan pada industri yang tidak mampu menyerap HGBT tapi di sisi suplainya," ujarnya di Jakarta, Kamis (29/2/2024).

Menurutnya, tidak masuk akal jika industri disebut tidak mampu menyerap harga gas di bawah 6 dolar AS per MMBTU. Ia menjelaskan, bila suplai gas bumi tidak bermasalah maka serapan program tersebut akan maksimal. 

 

"Jadi bukan industrinya yang tidak mampu menyerap. Ini tidak mungkin. Mungkin yang terjadi adalah kami dapat informasi industri hulu gas sedang maintenance, sehingga suplai gas kurang, jadi bukan industrinya yang tidak mampu menyerap," tutur Febri.

Ia berharap, program HGBT tetap berjalan dan diperluas penerimanya. Dirinya menegaskan, program ini mampu mendongkrak nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) jika berjalan baik.

 

Perlu diketahui, selama ini hanya ada tujuh sektor industri yang diperbolehkan mendapatkan gas HGBT. Tujuh sektor industri dimaksud meliputi industri pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement