Rabu 21 Feb 2024 14:15 WIB

Mendag Dorong Konsumsi Beras SPHP, Warga: Rasanya Kurang Enak

Ia menyiasati dengan mencampur beras yang kualitasnya lebih bagus.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pekerja mengangkut paket beras SPHP ukuran 5 kilogram untuk dikirim ke pasar-pasar, di Serang, Banten, Kamis (15/2/2024).
Foto: ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Pekerja mengangkut paket beras SPHP ukuran 5 kilogram untuk dikirim ke pasar-pasar, di Serang, Banten, Kamis (15/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah warga yang kini beralih mengkonsumsi beras program Stabilitas Pangan dan Harga Pangan (SPHP) yang digelontorkan Bulog menyebut kualitas beras tersebut belum bisa dikategorikan premium. Meski harganya murah dan kebersihannya terjaga, tetapi dari segi kualitas maupun rasa beras jenis ini masih kategori medium.

Hal ini disampaikan Ardiani (35 tahun) yang selama ini mengkonsumsi beras premium lokal. Kini, ia beralih menggunakan beras SPHP di tengah kelangkaan beras jenis premium.

Baca Juga

"Dari segi kebersihannya oke, fisik berasnya pun gede. Tetapi dari segi rasa nasinya kurang enak, anyep dibandingkan yang premium ya. Tetapi karena langka di ritel, ya sementara konsumsi yang ada," ujar Ardian, Rabu (21/2/2023).

Sementara itu, Suminar (53) yang juga menggunakan beras SPHP Bulog, kini menyiasati dengan mencampur beras yang kualitasnya lebih bagus. Namun demikian, ia mengaku terbantu dengan adanya beras SPHP Bulog tersebut.

 

"Harganya karena murah tentu membantu sekali di saat harga beras yang kualitasnya tinggi di pasar tinggi. Makanya, biar rasanya juga enak dicampur dengan beras yang kualitasnya lebih tinggi biar rasanya lebih pulen dan enak," ujarnya.

Sementara itu, hal berbeda disampaikan Dian (37) yang mengaku terbiasa mengkonsumsi beras SPHP Bulog untuk sehari-hari. Menurutnya, beras SPHP Bulog memiliki kualitas yang tidak kalah dengan beras premium, tetapi tetap terjangkau.

"Harganya masih masuk akal dan tentu rasanya juga enak dikonsumsi," ujarnya.

Adapun perbedaan spesifikasi beras medium dan premium hanya terletak pada persentase butir patah. Dikutip dari akun media sosial resmi Perum Bulog pada 9 Desember 2022 lalu, beras premium dan beras medium keduanya memiliki derajat sosoh yang sama, yaitu sebesar 95 persen dengan kadar air maksimal sebanyak 14 persen. 

Perbedaan yang jelas terlihat dari kedua kelas beras tersebut ada pada kualitas tampilan beras (utuh dan patah). Pada beras premium, beras kepala (butir hampir utuh hingga utuh) di atas 95 persen, sedangkan pada beras medium terdapat minimal 75 persen beras kepala. Sehingga, beras kepala pada beras premium jumlahnya lebih banyak dibandingkan pada beras medium.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan kembali mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) yang diproduksi Bulog. Menurutnya, beras SPHP memiliki kualitas yang bagus dan tidak kalah dengan beras premium. Ajakan ini disampaikan Zulkifli di tengah terus naiknya harga beras premium karena keterbatasan stok karena masa  panennya bergeser sebagai dampak El  Nino.

"Jadi, konsumen atau masyarakat bisa melakukan alternatif.  Kalau beras  premium dinilai mahal, masyarakat bisa membeli beras Bulog yang disubsidi yang kualitasnya juga tidak kalah. Bulog membanjiri beras SPHP di pasar-pasar dan ritel modern,” kata Zulhas dikutip dari siaran persnya, Rabu (21/2/2023) saat melakukan pemantauan harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok (bapok), di  Pasar Bulu,  Semarang.

Ia juga menegaskan Pemerintah menjaga stabilitas harga beras secara nasional dengan terus menggelontorkan beras SPHP Bulog bersubsidi dijual kira-kira Rp 10.900 atau Rp 11.000 per kilogram. Sebab, harga  beras premium yang banyak dikonsumsi masyarakat masih bergerak naik. 

Zulhas menyampaikan, jika sebelumya beras program SPHP digelontorkan sebanyak 100 ribu ton per bulan, kini telah meningkat menjadi 250 ribu ton tiap bulan. Kendati demikian, ia memastikan ketersediaan stok beras menjelang bulan puasa dan Lebaran juga aman.

"Menjelang Ramadhan dan Lebaran, ketersediaan beras tidak ada masalah, berasnya banyak. Kita punya stok beras Bulog 1,4 juta ton akan masuk lagi 2 juta ton. Jadi, tidak ada masalah," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement