Rabu 21 Feb 2024 14:04 WIB

PLN EPI Pasok 2,5 Juta Ton Biomassa untuk Cofiring PLTU pada 2024

Cofiring bisa menggantikan ketergantungan pada energi fosil secara bertahap.

PT PLN (Persero) berhasil menerapkan cofiring atau penggunaan biomassa untuk menggantikan batu bara sebagai bahan bakar di PLTU.
Foto: istimewa
PT PLN (Persero) berhasil menerapkan cofiring atau penggunaan biomassa untuk menggantikan batu bara sebagai bahan bakar di PLTU.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) pada 2024 akan memasok total 2,56 juta ton biomassa untuk memenuhi kebutuhan implementasi teknologi pencampuran bahan bakar (cofiring) di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

"Jumlah ini meningkat dua setengah kali dibandingkan 2023 yaitu 1 juta ton biomassa. Jumlah PLTU juga meningkat dari 43 menjadi 53 PLTU," kata Sekretaris Perusahaan PLN EPI Mamit Setiawan di Jakarta, kemarin.

Baca Juga

Selain bisa menggantikan ketergantungan atas energi fosil secara bertahap, penggunaan biomassa juga mampu menurunkan emisi. Menurut Mamit, penggunaan teknologi cofiring biomassa sebanyak 2,5 juta ton pada 2024 ini berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hingga 2,8 juta ton CO2 equivalen.

Pada tahun lalu implementasi cofiring biomassa pada 43 pembangkit mampu mengurangi emisi GRK hingga 941,9 ribu ton CO2 equivalen.

 

Sementara untuk 2025, kebutuhan biomassa ditargetkan mencapai 10 juta ton dengan implementasi cofiring di 52 PLTU PLN Grup dan potensi pengurangan emisi GRK sekitar 10 juta ton CO2 equivalen. "Ini pekerjaan yang luar biasa, mengingat lokasi penyediaan biomassa ini sangat menyebar (scatter) dan relatif jauh dari area PLTU," ujar Mamit.

Mamit menegaskan dalam penyediaan biomassa bagi PLTU tersebut, PLN EPI sama sekali tidak melakukan deforestasi.

Sebaliknya, pihak dia justru menyebar bibit tanaman di lahan-lahan tidur yang selama ini tidak dimanfaatkan, memanfaatkan limbah dan memberikan multiplier effect bagi perekonomian masyarakat pedesaan. "Kontrak-kontrak pengadaan biomassa juga dilakukan dengan CV, koperasi dan kelompok masyarakat. Inilah bedanya biomassa dengan batu bara. Kalau batu bara, kita bicara korporasi, tetapi biomassa kita bicara tentang ekonomi sirkular dan kerakyatan," kata Mamit.

Mamit optimistis PLN EPI mampu memenuhi target kebutuhan 10 juta ton biomassa untuk cofiring PLTU pada 2025 mengingat potensi biomassa di Tanah Air cukup berlimpah. "Pemetaan biomassa di Indonesia saat ini mencapai 500 juta ton. Dengan target 10 juta ton pada 2025, insya Allah kami bisa penuhi dengan memanfaatkan limbah-limbah dan hutan tanaman energi," ujarnya.

Untuk itu, PLN EPI aktif menyelenggarakan berbagai pelatihan antara lain pembibitan, tanaman organik dan silase. Sejauh ini kegiatan tersebut sudah dilakukan di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam waktu dekat, akan diduplikasi di daerah lain yaitu Kupang, Cilacap dan Tasikmalaya.

Pada 2023, pasokan biomassa PLN EPI berasal dari residu/sampah pertanian, perkebunan dan perhutanan seperti serbuk gergaji, sekam padi, bonggol jagung, bagasse tebu, pelet tandan kosong sawit, cangkang sawit, cangkang kemiri serta woodchip dari ranting-ranting dan tanaman replanting karet, bahkan BBJP hasil olahan sampah kota. PLN EPI juga membuka peluang bagi penduduk untuk menjual ranting-ranting tanaman yang akan diolah menjadi energi terbarukan biomassa sebagai substitusi batu bara PLTU.

Dengan indeks harga biomassa sebesar 1,2 dari harga batu bara hanya akan menaikkan BPP (biaya pokok produksi) sebesar 0,5 sen dolar AS, jauh lebih murah dibanding energi terbarukan lainnya.

 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement