Senin 19 Feb 2024 17:38 WIB

BI Diramal Tahan Suku Bunga Hingga Kuartal II 2024

Mayoritas ekonom, 17 dari 29 ekonom, memperkirakan setidaknya satu kali penurunan.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Lida Puspaningtyas
Logo Bank Indonesia.
Foto: Antara
Logo Bank Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, BENGALURU — Bank Indonesia (BI) diramal akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan rapat dewan gubernur (DG) bulanan pada 20-21 Februari 2024. Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, suku bunga akan dipertahankan karena inflasi yang terkendali dan prospek mata uang yang membaik. 

Tingkat inflasi Indonesia tetap berada dalam kisaran target bank sentral sebesar 1,5-3,5 persen sejak Juli 2023 yanh menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 250 basis poin. Sementara itu untuk rupiah, meskipun melemah 1,4 persen terhadap dolar AS pada tahun ini, kinerjanya lebih baik dibandingkan mata uang lainnya.

Baca Juga

Dengan terkendalinya inflasi, BI memiliki ruang untuk membiarkan kebijakannya tidak berubah dalam waktu dekat. Sebanyak 30 ekonom dalam jajak pendapat Reuters pada 12-16 Februari memperkirakan BI akan mempertahankan BI rate sebesar enam persen. 

Hal tersebut sejalan dengan ekspektasi Federal Reserve AS untuk memangkas suku bunga fed fund rate (FFR) sebesar 75 bps pada tahun ini. “Perkiraan kami mengenai penurunan suku bunga pertama yang dilakukan BI pada pertemuan Juni 2024 setelah The Fed mengumumkan penurunan suku bunganya yang pertama pada Mei,” jelas ekonom Societe Generale Kunal Kundu dikutip Reuters, Senin (19/2/2024). 

 

Kundu menuturkan kebijakan BI terutama dipengaruhi oleh tindakan The Fed. Mengingat tingginya ketergantungan mereka pada kepemilikan obligasi pemerintah oleh asing, kebijakan moneter terus dipandu oleh pergerakan mata uang dan imbal hasil obligasi dan belum tentu inflasi kecuali jika naik terlalu tinggi, terlalu cepat. 

Mayoritas ekonom, 17 dari 29 ekonom, memperkirakan setidaknya satu kali penurunan suku bunga pada kuartal berikutnya. Sementara itu 14 ekonom memperkirakan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen dan tiga ekonom sebesar 5,50 persen serta 12 sisanya melihatnya tersisa enam persen. 

“Risikonya sebagian besar berasal dari sisi eksternal, yaitu inflasi AS mungkin tetap lebih tinggi dari perkiraan, yang akan menyebabkan penurunan suku bunga tertunda,” kata Elbert Timothy Lasiman, ekonom di Bank Central Asia yang memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga.

Para ekonom melihat dampak pemilu presiden di Indonesia terbatas. Penghitungan suara tidak resmi menunjukkan bahwa Prabowo Subianto kemungkinan besar akan menjadi pemenang yang memenuhi janjinya untuk mengikuti kebijakan petahana Joko Widodo.

Hasil resmi akan diumumkan paling lambat pada 20 Maret 2024. “Karena kebijakan ekonomi saat ini kemungkinan akan berlanjut di bawah pemerintahan Prabowo, dampaknya terhadap kebijakan moneter dan kebijakan fiskal akan terbatas,” ucap Jeemin Bang, ekonom asosiasi di Moody’s Analytics. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement