Senin 22 Jan 2024 23:49 WIB

 Teten Tekankan Pentingnya Fulfillment Center Perlancar Logistik UMKM

Teten apresiasi langkah inisiatif Indonesia in Your Hand yang beroperasi di Belanda

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyampaikan sambutan saat peresmian Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Soreang, Kabupaten Bandung, Senin (23/10/2023). Dalam kunjungan kerjanya itu, Teten meminta pemerintah daerah (Pemda) baik Provinsi, Kota dan Kabupaten agar mensinergikan program hilirisasi UMKM yang sudah dicanangkan pemerintah pusat. Setiap UMKM yang ada di kota atau kabupaten mulai didorong untuk menjadi rantai utama pemasok ke sektor Industri.
Foto: Edi Yusuf/Republika
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyampaikan sambutan saat peresmian Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Soreang, Kabupaten Bandung, Senin (23/10/2023). Dalam kunjungan kerjanya itu, Teten meminta pemerintah daerah (Pemda) baik Provinsi, Kota dan Kabupaten agar mensinergikan program hilirisasi UMKM yang sudah dicanangkan pemerintah pusat. Setiap UMKM yang ada di kota atau kabupaten mulai didorong untuk menjadi rantai utama pemasok ke sektor Industri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki menekankan pentingnya fulfillment center yang menjadi jembatan bagi produk Indonesia go global terutama untuk mendukung produk lokal menembus market Eropa.

Salah satu fulfillment center tersebut diinisiasi oleh Indonesia In Your Hand, sebuah marketplace yang khusus menjual produk Indonesia di luar negeri dan memiliki kantor di Amsterdam, Belanda dan Sydney, Australia.

“Saya mengapresiasi langkah inisiatif Indonesia in Your Hand yang telah beroperasi di Belanda. Hal ini menjadi langkah solutif untuk membantu memasarkan produk industri dan UKM lokal, yang ingin produknya Go Global terutama yang produknya sesuai dengan market Eropa,” kata MenKopUKM Teten Masduki saat meninjau kegiatan e-Commerce Fulfillment Center In Yout Hand di Den Haag, Belanda, sebagaimana dikutip dari keterangan resminya di Jakarta, Senin.

Menteri Teten mengatakan, saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan dalam digitalisasi produk, yakni biaya ongkos logistik terbilang mahal. Hal tersebut dikarenakan proses untuk pembelian atau pengiriman barang masih dilakukan secara end-to-end antara penjual dan pembeli secara langsung, yang menyebabkan tidak ada subsidi dan tidak ada kemudahan yang diberikan oleh platform.

“Untuk itu diperlukan sebuah media atau platform untuk mengatasi permasalahan-permasalahan logistik tersebut dengan fulfillment center UMKM,” ucapnya.

Mahalnya biaya logistik, lanjutnya, disebabkan oleh pengiriman produk yang masih bersifat mandiri, kurangnya infrastruktur logistik, IT, serta konektivitas laut, darat, dan udara.

“Sebanyak 47,8 persen UMKM mengalami kesulitan pengiriman karena lokasi penerima jauh dari lokasi penjual, sehingga durasi pengiriman yang cepat membantu ketahanan barang khususnya bagi UMKM makanan,” jelasnya.

Menteri Teten menilai, dengan mempelajari cara kerja fulfillment center yang berlokasi di negara maju seperti Belanda dan sudah memiliki infrastruktur secara mumpuni, diharapkan Indonesia dapat mengadopsi cara-cara itu agar mampu membangun kawasan fulfillment center UMKM yang ideal.

Sehingga, biaya logistik, biaya pengemasan, hingga inventory bisa ditekan dan lebih hemat serta menjangkau dengan lebih efisien.

“Pada akhirnya, keberadaan fulfillment center akan mampu mendorong penurunan harga produk UMKM dan meningkatkan daya beli masyarakat tanpa mengabaikan kualitasnya,” ucap Teten.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement