Kamis 18 Jan 2024 11:06 WIB

BI Proyeksikan Transaksi Digital 2024 Naik 9,11 Persen

Keandalan Sistem Pembayaran BI didukung kondisi likuiditas yang memadai.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Fuji Pratiwi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mengungkapkan kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital tetap kuat didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal. Pada 2023, nilai transaksi digital banking tercatat Rp 58.478,24 triliun atau tumbuh sebesar 13,48 persen secara tahunan. 

Gubernur BI Perry Warjiyo memproyeksi peningkatan transkasi digital pada 2024. "Diproyeksikan nilai transaksi digital banking meningkat 9,11 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 63.803,77 triliun pada 2024," kata Perry dalam konferensi pers RDG Bulanan BI Januari 2024, Rabu (17/1/2024). 

Baca Juga

Sementara nilai transaksi Uang Elektronik (UE) meningkat 43,45 persen secara tahunan sehingga mencapai Rp 835,84 triliun. BI memproyeksikan transkasi uang elektronik meningkat 25,77 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 1.051,24 triliun pada 2024. 

Perry menambahkan, nominal transaksi QRIS juga tercatat tumbuh 130,01 persen secara tahunan mencapai Rp 229,96 triliun. "Jumlah pengguna QRIS 45,78 juta dan jumlah merchant 30,41 juta yang sebagian besar merupakan UMKM," ucap Perry.

Sementara itu, nilai transaksi pembayaran menggunakan kartu ATM, kartu debit, dan kartu kredit mencapai Rp 8.178,69 triliun atau turun sebesar 0,8 persen secara tahunan. Dari sisi pengelolaan uang rupiah, jumlah Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada Desember 2023 meningkat 7,33 persen secara tahunan sehingga menjadi Rp 1.101,75 triliun.

Perry memastikan, kelancaran dan keandalan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) terjaga baik didukung kondisi likuiditas yang memadai. Transaksi BI-FAST dan BI-Real Time Gross Settlement (RTGS) terus meningkat dimana BI-FAST tercatat masih menjadi pilihan masyarakat untuk melakukan transfer dana. 

Stabilitas sistem pembayaran yang baik tecermin dari tidak terdapatnya reject transaksi BI-RTGS dan BI-Scripless Securities Settlement System (SSSS) yang terkait dengan permasalahan likuiditas. "SPBI juga berjalan baik karena didukung oleh kelancaran sisi operasional, tecermin dari system availability yang tetap terjaga 100 persen," ujar Perry. 

Bank Indonesia terus memastikan ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang terjaga di seluruh wilayah NKRI melalui program pengedaran uang Rupiah ke daerah Terluar, Terdepan, Terpencil (3T). Begitu juga dengan kegiatan Kas Keliling, Kas Titipan, dan Ekspedisi Rupiah Berdaulat.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement