Senin 15 Jan 2024 20:15 WIB

Indonesia Infrastructure Finance Himpun Perpetual Bond Rp 335 Miliar

Obligasi ini tidak diidentifikasikan secara khusus sebagai obligasi ritel.

Ilustrasi pasar modal Indonesia.
Foto: EPA-EFE/BAGUS INDAHONO
Ilustrasi pasar modal Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) telah resmi menerbitkan Surat Berharga Perpetual Berwawasan Lingkungan IIF Tahun 2023 (Perpetual Bond) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai emisi sebesar Rp 355,19 miliar. Sebelumnya, IIF juga telah mencatatkan penerbitan Obligasi Berkelanjutan II Indonesia IIF Tahap I Tahun 2023 senilai Rp 500 miliar pada 27 Desember 2023 lalu.

“Pencatatan dua instrumen di BEI ini memiliki signifikansi tersendiri bagi IIF dalam hal alternatif sumber pendanaan, dan membuktikan suatu pencapaian baru bagi IIF di sektor pasar modal Indonesia,” ujar Presiden Direktur IIF Reynaldi Hermansjah di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (15/1/2024).

Baca Juga

Dalam penerbitan Obligasi Berkelanjutan II IIF Tahap I Tahun 2023, Reynaldi menyebut IIF memainkan peran sebagai katalis, yang terlihat dari besarnya jumlah investor ritel mencapai 65 persen, meskipun obligasi ini tidak diidentifikasikan secara khusus sebagai obligasi ritel.

“Hal tersebut merupakan cerminan dari upaya IIF selama ini untuk selalu mensosialisasikan konsep pembiayaan infrastruktur berbasis keberlanjutan,” ujar Reynaldi.

Sementara itu, untuk Surat Berharga Perpetual yang diterbitkan, menurutnya merupakan instrumen tematik yang diterbitkan dengan tujuan utama untuk memperkuat struktur modal perseroan. Terkait penggunaan dana, Ia mengungkapkan akan digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur berkelanjutan yang berlandaskan prinsip Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) di Indonesia.

“Surat Berharga Perpetual ini tidak memiliki jangka waktu, namun instrumen ini memiliki opsi tebus atas pelunasan pokok pada tahun ke-5 dan setiap ulang tahun penerbitan sesudahnya,” ujar Reynaldi.

Reynaldi menyebut instrumen ini merupakan sebuah terobosan baru yang ada di pasar modal Indonesia, dimana menjadi yang pertama menggunakan mekanisme penawaran umum di Indonesia. Selain itu, lanjutnya, Surat Berharga ini merupakan instrumen pertama yang mengimplementasikan aturan POJK 11/2018 perihal Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk kepada Pemodal Profesional.

“Kupon Obligasi Berkelanjutan II IIF Tahap I Tahun 2023 sebesar 6,45 persen untuk tenor 370 hari, 6,70 persen untuk tenor 3 tahun dan 6,80 persen untuk tenor 5 tahun, serta imbal bagi hasil Surat Berharga Perpetual Berwawasan Lingkungan Indonesia Infrastructure Finance Tahun 2023 sebesar 8,25 persen per tahun yang kami berikan tergolong kompetitif,” ujar Reynaldi.

Pefindo memberikan peringkat idAAA (stable outlook) untuk Obligasi Berkelanjutan II Indonesia Infrastructure Finance Tahap I Tahun 2023 serta peringkat idAA (stable outlook) untuk Surat Berharga Perpetual Berwawasan Lingkungan Indonesia Infrastructure Finance Tahun 2023.

Hingga September 2023, IIF membukukan penyaluran kredit senilai Rp13 triliun, dimana proyek energi terbarukan (EBT) dalam sektor ketenagalistrikan mendominasi capaian pembiayaan IIF.

Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga IIF tumbuh 15 persen year on year (yoy) menjadi Rp 1 triliun per September 2023, dan pendapatan non-bunga tumbuh 53 persen (yoy) menjadi Rp 83,8 miliar (yoy), atau mendorong pencapaian laba bersih IIF pada September 2023 yang tumbuh 17 persen (yoy) menjadi Rp 68,4 miliar.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement