Jumat 12 Jan 2024 17:50 WIB

BRI: Holding Ultra Mikro Perluas Akses Pendanaan ke Masyarakat

Masih ada 8,4 juta orang lagi yang harus dijaring hingga 2024.

Direktur BRI Sunarso.
Foto: Dok. BRI
Direktur BRI Sunarso.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso mengatakan Holding Ultra Mikro (UMi) bertujuan memperluas akses pendanaan dan akses keuangan kepada lebih banyak masyarakat dengan biaya seefisien mungkin.

"Spirit dibentuknya Holding Ultra Mikro adalah agar seluruh institusi-institusi termasuk institusi bisnis di bawah BUMN itu dalam melayani masyarakat mikro bisa lebih efisien dan memiliki daya jangkau lebih luas," kata Sunarso dalam diskusi How Ultra Micro Holding Connects Finance to Millions in Indonesia di Jakarta, Jumat (12/1/2024).

Baca Juga

Holding Ultra Mikro telah memperluas akses layanan keuangan kepada masyarakat mikro dan ultra mikro di Indonesia serta telah menjadi sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan bagi BRI Group.

Sejak terbentuk pada September 2021, Holding UMi telah memberikan akses pendanaan bagi lebih dari 29 juta ultra mikro dan terus fokus untuk memperluas akses bagi nasabah yang belum terlayani dengan produk dan layanan yang komprehensif.

 

Selanjutnya, Holding Ultra Mikro memasang target untuk bisa melayani 45 juta pelaku usaha sebagai nasabah pada 2024.

Holding UMi bentukan BRI, PT Pegadaian (Persero), dan Permodalan Nasional Madani (PNM) mencatat telah memiliki total 36,6 juta nasabah per September 2023, dari total jumlah masyarakat yang belum punya akses ke layanan keuangan formal (unbankable). Artinya, masih ada 8,4 juta orang lagi yang harus dijaring hingga 2024.

Menurut Sunarso, potensi pembiayaan di segmen bisnis ultra mikro masih sangat besar, sehingga ada sumber pertumbuhan potensial dan melimpah di segmen tersebut.

Namun, ada tantangan berupa operational cost dan operational risk yang tinggi karena melibatkan orang banyak dan banyak tempat. Untuk itu, digitalisasi menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan efisiensi.

"Dengan digital kita bisa menyelesaikan persoalan operational risk yang tinggi dan operational cost yang tinggi," ujar Sunarso.

Pada 2018, terdapat 45 juta bisnis ultra mikro yang membutuhkan pembiayaan. Dari total tersebut, hanya 15 juta bisnis ultra mikro yang sudah terlayani oleh layanan keuangan formal, yang terdiri dari tiga juta bisnis UMi dilayani bank, tiga juta ke gadai atau pawn lending, enam juta ke group lending, 1,5 juta ke BPR dan 1,5 juta fintech.

Sementara, lima juta ultra mikro memenuhi kebutuhan pendanaan dari rentenir (loan shark) dan tujuh juta ke keluarga dan teman, sementara 18 juta tidak terlayani sama sekali.

"Di rentenir itu bunganya paling murah 100 persen di hitung tahunan dan sampai 500 persen setahun," tuturnya.

Selanjutnya, berdasarkan riset terakhir, Sunarso mengatakan bisnis ultra mikro yang membutuhkan pembiayaan meningkat menjadi 48 juta. Dari total tersebut, yang sudah tersentuh oleh layanan keuangan formal juga naik dari 15 juta menjadi 34 juta bisnis ultra mikro.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement