Rabu 10 Jan 2024 14:51 WIB

Dua dari Tiga Orang Indonesia Melek Perencanaan Keuangan

Sebanyak 28 persen merasa menabung adalah opsi terbaik.

Karena masih termasuk sebagai produk pinjaman, penggunaan fitur paylater harus bisa dilakukan dengan cara yang tepat agar tak malah menjadi bumerang yang mengacaukan keuangan.
Foto: Dok. Indodana
Karena masih termasuk sebagai produk pinjaman, penggunaan fitur paylater harus bisa dilakukan dengan cara yang tepat agar tak malah menjadi bumerang yang mengacaukan keuangan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Survei yang diadakan platform Jakpat tentang perilaku dan kebiasaan pengguna teknologi finansial (tekfin) di Indonesia pada paruh kedua 2023 mengungkap bahwa dua dari tiga orang paham terhadap perencanaan keuangan.

Artinya, responden menyadari bahwa mereka harus memiliki manajemen keuangan untuk mencapai tujuan hidup.

Baca Juga

"Lebih dari separuh responden sudah memahami pentingnya perencanaan finansial, dan sebagian dari mereka juga memahami pentingnya tabungan, dana darurat, asuransi, sampai investasi,” kata Kepala Riset Jakpat, Aska Primardi dalam rilis pers yang diterima di Jakarta, Rabu (10/1/2024).

Jakpat mengadakan survei untuk mengetahui perilaku dan kebiasaan pengguna tekfin di Indonesia di paruh kedua 2023. Laporan yang melibatkan 1.503 responden itu menunjukkan bagaimana pandangan kepada perencanaan keuangan serta penggunaan di bidang pembayaran digital, investasi, pinjam online, dan asuransi.

Survei yang melibatkan Gen X, milenial, dan Gen Z itu berfokus pada tiga jenis pembayaran digital, yaitu dompet digital (e-wallet), internet atau mobile banking, serta buy now pay later (BNPL) atau biasa dikenal pay later.

Setengah dari responden sadar bahwa menabung dan berinvestasi adalah dua hal yang relevan dengan kondisi keuangan mereka saat ini. Sebanyak 28 persen merasa menabung adalah opsi terbaik saat ini, sementara 10 persen mengaku tak memiliki anggaran untuk keduanya.

Secara umum, ada berbagai pertimbangan dalam memilih platform tekfin. Beberapa di antaranya adalah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (55 persen), metode pembayaran yang mudah (54 persen), dan aplikasi yang ramah pengguna (50 persen).

Pada semester kedua 2023, sebanyak 86 persen responden melakukan pembayaran digital. Aktivitas keuangan lain yang juga dilakukan, baik secara digital maupun konvensional adalah membayar kredit (37 persen), investasi (25 persen), dan asuransi (24 persen).

Berdasarkan survei Jakpat, tiga dari empat responden menggunakan dompet digital sebagai metode pembayaran digital, disusul mobile atau internet banking (45 persen), dan pay later (25 persen).

E-wallet menjadi metode pembayaran digital populer di mana responden menggunakannya saat belanja daring atau ketika bertransaksi langsung seperti di restoran, supermarket, dan lain-lain.

Namun, Aska mengungkapkan seringkali gaji dan tabungan sudah banyak tergerus oleh kebutuhan sehari-hari dan gaya hidup. Di sisi lain, ada kemungkinan kenaikan pendapatan kalah dengan biaya hidup yang naik lebih cepat dan lebih tinggi.

“Dengan pertimbangan gaji sebulan yang bisa habis dalam waktu kurang dari sebulan, mereka pun mulai beralih ke fitur pay later sebagai solusinya,” ucap Aska.

Tiga teratas produk investasi yang dimiliki responden Jakpat pada semester kedua 2023 adalah reksadana (42 persen), deposito (36 persen), dan saham (32 persen). Kripto dan Surat Berharga Nasional seperti obligasi dan sukuk juga masih diminati.

Soal kredit, sebanyak 66 persen responden yang memiliki tagihan di luar kebutuhan rumah tangga mengaku membayar pay later tiap bulan. Angsuran lain di antaranya kredit pemilikan rumah (25 persen), pinjaman online (22 persen), dan kendaraan bermotor (22 persen).

Sementara, satu dari empat responden memiliki asuransi. Beberapa jenis asuransi yang dimiliki adalah asuransi kesehatan (80 persen), asuransi jiwa (55 persen), dan dana pensiun (39 persen).

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement