Selasa 09 Jan 2024 14:15 WIB

Sektor Jasa Keuangan Kokoh Hadapi Potensi Perlambatan Ekonomi Global

Perlambatan pertumbuhan ekonomi itu mendorong inflasi turun.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Lida Puspaningtyas
Tangkapan layar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Sirgar dalam konferensi pers RDK Bulanan OJK Desember 2023, Selasa (9/1/2024).
Foto: Dok.Tangkapan Layar
Tangkapan layar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Sirgar dalam konferensi pers RDK Bulanan OJK Desember 2023, Selasa (9/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan sektor jasa keuangan kokoh hadapi potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Hal tersebut dipastikan usai OJK selesai melakukan rapat dewan komisioner bulanan Desember 2023 pada awal tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga baik. “Ini didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, dan profil risiko yang terjaga,” kata Mahendra dalam konferensi pers RDK Bulanan OJK Desember 2023, Selasa (9/1/2024).

Baca Juga

Dengan begitu diharapkan mampu menghadapi potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Mahendra menuturkan, indikator perekonomian secara global menunjukkan moderasi ataupun perlambatan pertumbuhan di beberapa negara, khususnya di negara-negara Uni Eropa dan China.

“Perlambatan pertumbuhan ekonomi itu mendorong inflasi turun mendekati target inflasi sehingga memberikan ruang bagi bank sentral untuk lebih akomodatif,” jelas Mahendra.

Volatilitas di pasar saham, surat utang, maupun nilai tukar juga terpantau menurun. Di domestik, lanjut Mahendra, indikator utama perekonomian nasional positif diantaranya ditunjukkan oleh neraca perdagangan yang surplus dan PMI manufaktur yang masih ekspansif.

Mahendra menambahkan, tingkat inflasi juga terjaga rendah pada level 2,61 persen secara tahunan dibandingkan pada November yang berada pada level 2,28 persen. Meskipun begitu, Mahendra mengatakan masih perlu dicermati perkembangan permintaan domestik ke depan seiring masih berlanjutnya penurunan inflasi inti, penurunan optimisme konsumen, serta melandainya pertumbuhan penjualan ritel dan kendaraan bermotor.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement