Jumat 05 Jan 2024 15:29 WIB

Mau Beli Saham? Ini Rekomendasi Analis untuk Kuartal I 2024

Sektor infrastruktur masih akan memimpin, diikuti sektor keuangan dan teknologi.

Ilustrasi bursa saham Indonesia.
Foto: EPA-EFE/BAGUS INDAHONO
Ilustrasi bursa saham Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta merekomendasikan tiga sektor saham untuk dikoleksi pelaku pasar di tengah optimisme The Fed akan dovish pivot pada kuartal I 2024. Ia mengatakan sektor infrastruktur masih akan memimpin, diikuti sektor keuangan dan sektor teknologi yang mulai membaik, yang mana berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Kalau infrastruktur berkaitan dengan kepastian dari ketiga calon presiden (capres) untuk meneruskan program infrastruktur nasional,” ujar Nafan di Jakarta, Jumat (5/1/2024).

Baca Juga

Ia melanjutkan, pelaku pasar juga bisa Buy on Weakness (BoW) atau aksi beli saat harga saham turun pada kuartal I 2024, di antaranya pada saham sektor kesehatan, sektor barang konsumen primer, sektor barang konsumen non primer, sektor transportasi dan logistik, serta sektor industri.

“Ini (weakness) bisa digunakan untuk mostly trading,” ujar Nafan.

Dari mancanegara, Ia menjelaskan optimisme pelaku pasar terhadap implementasi dovish pivot bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed pada Maret 2024 akan memberikan sentimen positif ke pasar.

“Sejauh mana sentimen optimisme pelaksanaan pivot policy yang dilaksanakan central bank itu bisa kuat, itu yang paling krusial, yang paling esensial,” ujar Nafan.

Selain itu, lanjutnya, sentimen lain dari mancanegara di antaranya tensi politik di beberapa negara yang akan melangsungkan politik elektoral berupa Pemilihan Umum (Pemilu).

Dari dalam negeri, Ia menyebut sentimen akan datang dari laporan keuangan emiten akhir 2023 yang dirilis pada kuartal I 2024, yang mana akan mempengaruhi pergerakan pasar saham domestik.

“(Selain itu), pemilu akan membuat pasar kita bisa melalui fluktuasi, biasanya investor cenderung menunggu,” ujar Nafan.

Namun demikian, Ia memastikan bahwa perekonomian dalam negeri masih relatif stabil, di mana inflasi masih sesuai target Bank Indonesia (BI), Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur masih ekspansif, serta neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus terus menerus.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement