Rabu 03 Jan 2024 18:30 WIB

Ekonom Nilai Penurunan Defisit APBN 2023 Sebagai Capaian Positif

Penurunan defisit APBN harus juga memperhatikan kualitas belanja pemerintah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN 2023 di Gedung Djuanda 1, Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (2/1/2024).
Foto: Republika/Dian Fath Risalah
Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN 2023 di Gedung Djuanda 1, Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (2/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai penurunan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 menjadi 1,65 persen merupakan capaian positif.

"Pencapaian defisit APBN 2023 yang merupakan yang terendah kalau tidak salah dari sejak 2011 ya. Itu merupakan capaian positif," kata Yusuf dilansir ANTARA di Jakarta, Rabu (3/1/2024).

Baca Juga

Menurut Yusuf, penurunan defisit APBN 2023 disebabkan oleh dua faktor, yaitu penurunan belanja dan peningkatan penerimaan. Belanja negara pada 2023 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan 2022, sementara penerimaan negara masih cenderung positif meskipun di tengah penurunan harga komoditas.

"Alokasi belanja di 2023 memang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan 2022," ujar Yusuf.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa penurunan defisit APBN tidak boleh hanya mengejar target 100 persen belanja, tetapi juga memperhatikan kualitas belanjanya.

"Kualitas belanja yang baik harus diukur dari outcome-nya, bukan hanya realisasinya," kata Yusuf.

Yusuf mencontohkan, belanja APBN untuk mitigasi dampak el Nino atau penyaluran transfer ke daerah dan dana desa harus diukur efektivitasnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dia juga mengingatkan pemerintah perlu mewaspadai peningkatan ruang belanja untuk pembayaran beban bunga utang. Hal tersebut karena ruang belanja pemerintah cenderung terbatas, sementara kebutuhan belanja untuk berbagai pos, seperti belanja bantuan sosial (bansos), subsidi, dan belanja modal, juga terus meningkat.

"Peningkatan belanja beban bunga utang kan tentu akan berpotensi menurunkan ruang belanja untuk pos-pos di luar belanja beban bunga utang tersebut," kata Yusuf.

Selain itu, Yusuf juga menilai tren suku bunga yang tinggi akan ikut mempengaruhi ruang belanja untuk pembayaran bunga utang di kemudian hari. "Imbal hasil yang ditawarkan akan lebih tinggi dan potensi pembayaran bunga utang lebih tinggi juga bisa terjadi," kata Yusuf.

Dengan demikian, Yusuf berharap pemerintah perlu melakukan berbagai upaya untuk menekan beban bunga utang, seperti meningkatkan penerimaan negara dan efisiensi belanja.

"Pemerintah juga perlu menyusun skema pembiayaan utang yang lebih aman dan berkelanjutan," ujar Yusuf.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement