Kamis 16 Nov 2023 21:15 WIB

OJK Catat Kinerja Keuangan Solo Raya Positif pada Kuartal III

Ini tercermin dari pertumbuhan di masing-masing sektor industri keuangan.

Karyawan memberikan pelayanan usai peresmian kantor baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2020).
Foto: Antara/Mohammad Ayudha
Karyawan memberikan pelayanan usai peresmian kantor baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2020).

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja keuangan di wilayah Solo Raya tumbuh positif hingga kuartal III tahun 2023 menyusul membaiknya kondisi perekonomian usai pandemi Covid-19.

Kepala OJK Surakarta Eko Yunianto di Solo, Jawa Tengah, Kamis (16/11/2023), mengatakan, OJK menilai kondisi industri jasa keuangan (IJK) di wilayah Solo Raya terjaga stabil dengan mencatatkan kinerja dan pertumbuhan positif sampai dengan September 2023. "Ini tercermin dari pertumbuhan di masing-masing sektor industri keuangan dengan likuiditas dan permodalan yang memadai serta profil risiko yang terjaga," kata Eko.

Baca Juga

Berdasarkan data statistik keuangan di wilayah Solo Raya, pihaknya mencatat posisi September 2023 stabilitas sektor perbankan tetap terjaga dan tumbuh secara year on year (yoy).

Ia mengatakan untuk aset perbankan naik sebesar 5,87 persen menjadi Rp 117,50 triliun dari sebelumnya Rp 111,63 triliun. Sedangkan untuk kredit perbankan juga tumbuh sebesar 3,95 persen atau mengalami peningkatan sebesar Rp 4,02 triliun, yakni dari Rp 101,753 triliun pada September 2022 menjadi Rp 105,775 triliun pada September 2023.

Selanjutnya, untuk dana pihak ketiga (DPK) tercatat mengalami peningkatan sebesar 2,87 persen dari Rp 88,57 triliun pada September 2022 menjadi Rp 91,11 triliun pada bulan yang sama 2023 ini.

Sementara itu, dikatakannya, likuiditas perbankan di wilayah Solo Raya pada September 2023 masih terjaga dengan loan to deposit ratio (LDR) pada angka 116,10 persen dan rasio nonperforming loan (NPL) sebesar 8,67 persen.

"Untuk nominalnya sebesar Rp 9,17 triliun. Dari sisi sektor penyumbang NPL terbesar periode September 2023 adalah industri pengolahan sebesar 21,13 persen," kata Eko.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement