Senin 13 Nov 2023 14:37 WIB

Daya Beli Masyarakat jadi Penopang Pertumbuhan, Saham Konsumer Jadi Andalan

Rilis data pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2023 dinilai tetap tangguh

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Lida Puspaningtyas
Karyawan beraktivitas di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Karyawan beraktivitas di dekat layar yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (24/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasar saham domestik diperkirakan akan melanjutkan penguatan pada pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir bergerak volatil namun sanggup ditutup menguat sebesar 0,30 persen ke level 6.809,26.

"Sentimen penggerak indeks dari domestik, rilis data pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2023 tetap tangguh," kata Research Analyst & Consultant Infovesta kapital Dandhi Nur Prastiyo dalam ulasannya, Senin (13/11/2023).

Baca Juga

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat meski mengalami perlambatan pada kuartal III 2023. Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi terutama berasal dari tingkat konsumsi pemerintah dan komponen ekspor impor yang terus terkontraksi.

Dhandi memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan masih tetap solid ditopang dari daya beli masyarakat yang meningkat. Berdasarkan survei, indeks keyakinan konsumen terbaru mengalami peningkatan ke level 124,3 poin dari 121,7 poin pada bulan sebelumnya.

 

Dhandi melihat, dimulainya pesta demokrasi melalui tahapan kampanye akan mendorong tingkat belanja konsumsi atau consumer spending. Di sisi lain, berlanjutnya proyek pembangunan infrastruktur pemerintah di Ibu Kota Nusantara IKN dapat mendorong pertumbuhan investasi.

Sentimen lain dari domestik yakni cadangan devisa Indonesia turun menjadi 133,1 miliar dolar AS. Penurunan ini disebabkan kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat tertekan cukup dalam akibat meningkatnya ketidakpastian pasar global.

Sentimen dari global, rilis data neraca dagang China terbaru turun pada September. Penurunan itu dipicu oleh pertumbuhan impor yang lebih cepat dari nilai ekspor yang terkontraksi. Serta rilis data inflasi China Kembali mengalami deflasi sebesar 0,2 persen.

"Hal ini mencerminkan daya beli masyarakat China  yang masih lesu," ujar Dhandi.

Dari AS, lembaga Moody’s menurunkan outlook Amerika serikat menjadi AAA- dari sebelumnya AAA stabil. Rilis data klaim tunjangan pengangguran mengalami penurunan sebanyak 3.000 menjadi 217.000 pada pekan terakhir.

Dalam sepekan ke depan, Dhandi memprediksi, potensi IHSG bullish masih akan berlanjut. Menurutnya, investor dapat mencermati sektor keuangan dan properti dengan saham yang mempunyai valuasi menarik.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement