Kamis 02 Nov 2023 09:52 WIB

The Fed Pertahankan Suku Bunga, IHSG Melonjak Lebih dari Satu Persen

Kenaikan IHSG ditopang sektor teknologi, salah satunya GOTO yang naik 6,45 persen.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi
Pekerja membersihkan lantai di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/11/2022).
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja membersihkan lantai di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (18/11/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak tajam di awal perdagangan Kamis (2/11/2023). IHSG dibuka naik ke level  6.642,69 dan terus menguat hingga 1,29 persen ke level 6.728,27. 

IHSG berhasil berbalik ke zona hijau setelah kemarin sempat anjlok sebesar 1,63 persen. Kenaikan IHSG pagi ini ditopang menguatnya saham sektor teknologi, salah satunya GOTO yang melesat naik 6,45 persen.

Baca Juga

Kemudian, sektor properti juga membukukan penguatan signifikan dengan BSDE naik lebih dari tiga persen. Tidak ketinggalan sektor energi turut melompat tinggi dengan ADRO menguat lebih dari dua persen. 

Pergerakan IHSG yang optimistis ini sejalan dengan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Di Asia, penurunan imbal hasil itu mengerek naik indeks dengan Nikkei dan Hang Seng masing-masing naik satu persen lebih. 

 

"Indeks saham di Asia pagi ini dibuka menguat mengikuti pergerakan indeks saham utama di Wall Street yang semalam di tutup naik sementara imbal hasil surat utang Pemerintah AS bertenor 10 tahun turun sekitar 11 bps menjadi 4,77 persen," kata Phillip Sekuritas Indonesia.

Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS ini memperlemah nilai tukar mata uang dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama di dunia. Pada perdagangan semalam, indeks dolar AS melemah hingga 0,51 persen. 

Investor bereaksi atas keputusan bank sentral AS yang ramah atau dovish. Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) di kisaran target 5,25 persen-5,50 persen. Hal ini membangkitkan harapan siklus kenaikan suku bunga mungkin sudah berakhir.

Federal Reserve masih membuka pintu bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut.  Namun bank sentral AS itu memberi catatan bahwa kondisi finansial belakangan ini sudah mengetat secara signifikan didorong oleh kenaikan imbal hasil obligasi.

Rilis data ekonomi AS memberi gambaran pasar tenaga kerja yang mulai longgar secara perlahan namun masih ketat. ISM Manufacturing Index turun ke level 46,7 pada Oktober dari level 49,0 dan memperpanjang rangkaian kontraksi di sektor maufaktur AS menjadi 11 bulan beruntun.

Semalam bursa utama Wall Street kompak ditutup menguat. Indeks Nasdaq memimpin penguatan sebesar 1,64 persen, lalu S&P 500 menyusul dengan kenaikan 1,05 persen dan Dow Jones menguat tipis 0,67 persen. 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement