Selasa 31 Oct 2023 16:20 WIB

Ekonom Israel Desak Pemerintah Hemat Anggaran Pada Masa Perang

Bank Sentral Israel mengatakan defisit anggaran akan mencapai 2,3 persen dari PDB.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Warga melihat rumah dan kendaraan yang hancur di Tel Aviv, 8 Oktober 2023.
Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Warga melihat rumah dan kendaraan yang hancur di Tel Aviv, 8 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Sebanyak 300 ekonom paling senior Israel meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengalihkan dana negara dari barang-barang yang tidak penting ke bidang-bidang yang mengalami kerusakan akibat perang dengan Hamas. Pengalihan dana ini termasuk memberikan bantuan kepada para korban dan pemulihan ekonomi.

Dalam suratnya kepada Netanyahu dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, para ekonom, termasuk mantan Gubernur Bank Israel Jacob Frenkel, mengatakan konflik akan menelan biaya setidaknya puluhan miliar shekel. Bank sentral dan ekonom khawatir karena pemerintah mungkin masih melanjutkan transfer sekitar 9 miliar shekel (2,2 miliar dolar AS) kepada kelompok ultra-Ortodoks dan partai sayap kanan pro-pemukim sebagai bagian dari perjanjian untuk bergabung dengan koalisi yang berkuasa.

Baca Juga

Dana ini menimbulkan perdebatan sengit di Kementerian Keuangan. Karena sebagian besar dana tersebut ditujukan untuk mendorong laki-laki ultra-Ortodoks agar tidak memasuki dunia kerja. Para ekonom, termasuk mantan penasihat Netanyahu, Eugene Kandel, dan penasihat ekonomi Bank Hapoalim, Leo Leiderman, mengatakan bahwa perubahan kecil dalam anggaran yang ada tidak mendekati cakupan pengeluaran yang diperlukan untuk perang dan kompensasi bagi mereka yang terkena dampak.

“Pemerintah harus menghadapi tantangan ini sesegera mungkin dan berusaha memulihkan kepercayaan warga terhadap kemampuannya. Langkah mendasar dan perlu untuk melakukan hal ini adalah segera menghentikan pendanaan semua kegiatan yang tidak penting untuk perang, upaya dan rekonstruksi perekonomian, dan yang pertama dan terpenting adalah dana koalisi,” ujar isi surat tersebut.

 

Para ekonom mendesak Netanyahu dan Smotrich meninjau anggaran tahun 2023 dan membatalkan semua item anggaran yang tidak penting. Sementara anggaran tahun 2024 harus dibuka kembali untuk diperbarui dengan prioritas yang mencerminkan kebutuhan perekonomian akibat perang.

Kantor Netanyahu tidak segera memberikan komentar. Sementara juru bicara Smotrich mengatakan akan ada perubahan dalam realokasi pendanaan negara. Bank sentral Israel pekan lalu memperkirakan defisit anggaran akan mencapai 2,3 persen dari produk domestik bruto pada 2023 dan 3,5 persen pada tahun 2024, dengan catatan perang tidak meluas ke front lainnya. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement