Senin 23 Oct 2023 21:04 WIB

Ahli: Perpindahan IKN Dampaknya Besar Jika Bisa Tarik Kegiatan Ekonomi

Kota pintar hijau akan menjadikan IKN sebagai simbol baru Indonesia.

Arsip foto - Desain Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara.
Foto: ANTARA/HO-Kementerian PUPR
Arsip foto - Desain Kawasan Inti Pusat Pemerintahan atau KIPP Ibu Kota Negara Nusantara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar demografi dan ekonom Universitas Indonesia (UI) Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengatakan perpindahan ibu kota negara (IKN) akan berdampak besar bagi perubahan demografi jika mampu menarik kegiatan perekonomian.

"Besarnya dampak perpindahan ibu kota sangat ditentukan oleh mampu atau tidaknya perpindahan ibu kota negara tersebut menarik kegiatan perekonomian," kata Sonny dalam Seminar Internasional Hari Kekayaan Negara tentang Reimagining Jakarta Future yang dipantau virtual di Jakarta, Senin (23/10/2023).

Sonny menuturkan, belajar dari negara-negara lain yang sudah memindahkan ibu kotanya seperti Brasil, Kazakhstan, dan Myanmar, dapat disimpulkan bahwa jika perpindahan ibu kota negara diikuti dengan pergeseran kegiatan ekonomi, maka ibu kota baru akan menarik migrasi dalam jumlah besar.

Sebaliknya jika perpindahan ibu kota negara tidak diikuti dengan kegiatan perekonomian, maka perpindahan tersebut tidak memberikan dampak yang besar terhadap perubahan demografi.

Sebagai dampak perpindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur, Sonny menyebutkan dalam proyeksi piramida penduduk, median penduduk Jakarta akan berusia sekitar 40 tahun pada 2050.

Dengan struktur populasi tersebut, pola konsumsi masyarakat juga akan berubah. Jakarta diperkirakan akan kehilangan lebih dari 400 ribu orang pada 2050 sebagai akibat dari perpindahan ibu kota negara.

Sedangkan Kalimantan Timur akan menerima lebih dari dua juta penduduk akibat pemindahan ibu kota negara. Walaupun ibu kota negara baru, Nusantara, akan menjadi daerah istimewa, namun data saat ini terbatas.

Dalam kurun waktu 30 tahun ke depan mulai 2020 hingga 2050 jumlah penduduk Kalimantan Timur akan hampir dua kali lipat. Dengan asumsi aparatur sipil negara (ASN), prajurit TNI dan Polri akan tetap tinggal di Nusantara setelah pensiun, sehingga penduduk lanjut usia di Kalimantan Timur akan meningkat drastis.

"Namun, saya tidak tahu pola migrasi di Kalimantan Timur ke depannya. Tidak menutup kemungkinan para pegawai atau tentara atau polisi yang sudah pensiun memilih kembali ke daerah asalnya sebagai migrasi kembali," ujarnya.

Proyeksi piramida penduduk Kalimantan Timur pada 2050 akan didominasi oleh penduduk lanjut usia muda, yakni berusia 50 tahun ke atas.

Ia mengatakan penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio ketergantungan lansia menyebabkan penurunan harga rumah. Dengan menurunnya jumlah penduduk di Jakarta ditambah dengan banyaknya jumlah lansia, maka diperkirakan nilai properti di Jakarta akan terus menurun apalagi dengan adanya perubahan iklim.

Sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan bahwa perpindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kalimantan Timur akan memberikan tantangan dan peluang untuk melakukan revitalisasi dan pengembangan kota lebih baik.

"Jakarta akan bertransformasi dengan kekhususan menjadi kota global yang berfungsi sebagai simpul utama dalam jaringan ekonomi dunia yang memiliki hubungan mengikat dengan kota-kota lain serta berdampak langsung pada urusan sosial ekonomi global," kata Heru.

Pemindahan IKN dari Jakarta ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur bertujuan untuk keseimbangan pembangunan. Kehadiran IKN akan memangkas kesenjangan pembangunan antarwilayah di Indonesia.

Konsep Future Smart Forest City atau kota pintar hijau akan menjadikan IKN sebagai simbol baru Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya alam, ramah lingkungan, penggunaan energi hijau, dan tata kota yang modern.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement