Rabu 18 Oct 2023 18:49 WIB

Integrasi dengan Ekosistem GoTo, Bank Jago Yakin Bisa Dongkrak Kinerja

Pengguna ekosistem yang cukup besar diyakini dapat meningkatkan jumlah nasabah.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Ahmad Fikri Noor
Ilustrasi layanan Gopay.
Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Ilustrasi layanan Gopay.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Jago Tbk optimistis integrasi dengan ekosistem GoTo seperti peluncuran GoPay Tabungan akan mendongkrak pertumbuhan kinerja perseroan. Pengguna ekosistem yang cukup besar diyakini dapat meningkatkan jumlah nasabah hingga dana murah. 

"Saya percaya dengan berbagai integrasi yang dilakukan, ekosistem GoTo akan berkontribusi terhadap pertumbuhan kinerja Bank Jago," kata Direktur Utama Bank Jago, Arief Harris Tandjung di acara peluncuran GoPay Tabungan di Jakarta, Rabu (18/10/2023).

Baca Juga

Menurut Arief, saat ini jumlah nasabah Bank Jago mencapai sekitar 7,5 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar 35 persennya berasal dari ekosistem GoTo. Dengan berbagai integrasi yang dilakukan, ekosistem GoTo diyakini akan berkontribusi positif dalam peningkatan jumlah nasabah Bank Jago.

Selain itu, integrasi yang dilakukan diharapkan akan membantu memperkuat posisi Bank Jago sebagai pemain utama bank digital. Oleh karena itu, Arief mengatakan, Bank Jago akan terus berupaya membuka peluang untuk melakukan integrasi lebih lanjut.

 

Tidak hanya jumlah nasabah, menurut Arief, integrasi dengan ekosistem GoTo juga akan meningkatkan porsi dana murah. Arief mengungkapkan sekitar 72 persen dari pendanaan Bank Jago berasal dari Current Account Savings Account (CASA). 

Arief optimistis kerja sama dengan ekosistem GoTo akan membantu membuat likuiditas Bank Jago lebih longgar. Saat ini, Arief mengakui, Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencerminkan kondisi likuiditas Bank Jago masih cukup ketat, namun trennya akan terus menurun. 

"Ke depan, secara LDR pasti akan turun lagi," ujar Arief.

Sepanjang semester pertama tahun ini, Bank Jago membukukan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 10,1 triliun atau tumbuh 65 persen dari Rp 6,1 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Porsi CASA mendominasi mencapai 71,4 persen, sementara sisanya merupakan deposito 28,6 persen.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement