Rabu 11 Oct 2023 15:40 WIB

Pengamat: Kebijakan dan Proses Harus Tepat untuk Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Perekonomian Indonesia ke depan hendaknya didukung pemanfaatan teknologi baru.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Lida Puspaningtyas
Jurnalis mendengarkan paparan dari Piter Abdullah (dalam layar kaca) saat mengisi acara webinar di Jakarta, Kamis (22/9/2022).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Jurnalis mendengarkan paparan dari Piter Abdullah (dalam layar kaca) saat mengisi acara webinar di Jakarta, Kamis (22/9/2022).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam mengatakan tiga hal yang menjadi kunci dalam pertumbuhan ekonomi yakni input, proses, dan output. Piter menjelaskan aspek input terkait dengan kebijakan sektoral, fiskal, dan moneter; sedangkan aspek proses meliputi sektor keuangan; dan aspek output terlihat pada angka pertumbuhan ekonomi, pengangguran, hingga kemiskinan. 

"Output sangat ditentukan proses. Proses itu karena mesin yang tergantung pada input yang dikeluarkan banyak pihak, tentang kebijakan yang bisa menjadi motor penggerak ekonomi. Apabila racikan tepat, maka motor akan efisiensi dan menghasilkan output yang baik," ujar Piter dalam webinar bertajuk "Motor Penggerak Ekonomi Nasional" yang diselenggarakan Republika di Jakarta, Rabu (11/10/2023).

Untuk memacu pertumbuhan ekonomi, Piter menyebut perlunya mesin atau motor penggerak ekonomi yang efisien dan bertenaga, yang diperkuat dengan input kebijakan serta program-program pembangunan ekonomi yang efektif. Piter mengatakan hal ini juga sangat bergantung pada pelaku mesin ekonomi yakni rumah tangga, badan usaha, dan pemerintah, yang berlaku sebagai produsen dan konsumen.

"Di sini lah peran BUMN sangat besar, termasuk peran BRI," ucap Piter. 

 

Piter menyebut perekonomian Indonesia ke depan hendaknya didukung pemanfaatan teknologi baru. Indonesia harus keluar dari jebakan teknologi menengah yang kurang produktif, dan kurang mensejahterakan.

Piter mengatakan hal ini dapat membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dengan mampu mendapatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata delapan persen atau lebih. Piter menilai pertumbuhan ekonomi yang tidak cukup tinggi atau rata-rata di bawah delapan persen akan menyebabkan Indonesia gagal memanfaatkan bonus demografi. 

"Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi hanya bisa diwujudkan dengan mempersiapkan mesin ekonomi yang baru dengan penguatan di berbagai bidang, didukung pemanfaatan teknologi maju," kata Piter.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement